Kemana wawasan kebangsaan kita?

Posted: January 20, 2014 in Politik Sosial dan Budaya
Tags: ,

Setelah sekian lama mengalami moratorium akhirnya menjalang Pemilu 2014 penerimaan CPNS diadakan kembali. Ditengah hingar bingarnya ancaman manipulasi hasil penerimaan yang sering (diduga) terjadi, inovasi yang dilakukan oleh Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dengan menerapkan komputerisasi dalam sistem seleksi CPNS di tahun 2013 ini patut diacungi jempol. Meskipun masih belum diterapkan di semua institusi pemerintahan serta masih pada tahapan Tes Kompetensi Dasar (TKD). Tentunya kita sangat berharap kedepannya sistem ini semakin baik kedepannya baik dari sisi transparansi dan akuntabilitas proses rekrutmen hingga output yang dihasilkan.

Berbicara mengenai rekrutmen pegawai negeri sipil di Indonesia tidak pernah lepas dari bahasan mengenai masalah klasik yang telah membudaya di republik ini seperti dugaan praktik KKN, praktik percaloan dan kecurangan lainnya. Terlepas dari fenomena tersebut penulis lebih tertarik membahas hal lain yang menurut penulis tidak kalah substantif untuk menjadi perhatian serius semua elemen bangsa Indonesia.

Seperti yang telah ditetapkan bahwa materi dari Tes Kompetensi Dasar (TKD) dalam tes CPNS terdiri dari tiga kategori yaitu Tes Wawasan Kebangsaan, Tes Intelegensi Umum dan Tes Karakteristik Pribadi. Secara sederhana, banyak orang akan menduga bahwa tes intelegensi umum merupakan jenis tes yang memiliki tingkat kesulitan paling tinggi dari kategori lainnya. Sayangnya, berdasarkan pengalaman penulis yang kebetulan telah beberapa kali mengikuti tes CPNS tahun ini banyak peserta yang mengatakan bahwa mereka banyak mengalami kesulitan pada tes wawasan kebangsaan. Apakah tes wawasan kebangsaan ini benar-benar sesulit yang dikemukakan oleh banyak peserta?

Pada dasarnya, tes wawasan kebangsaaan hanya menguji seberapa jauh pemahaman kita tentang bangsa Indonesia terutama mengenai sejarahnya, konstitusi negara serta beberapa pengetahuan umum yang berkaitan dengan peristiwa penting seputar sejarah dunia. Beberapa soal mengenai sejarah adalah pertanyaan-pertanyaan mengenai masa-masa sekitar kebangkitan nasional, tokoh-tokoh sumpah pemuda dan kebangkitan nasional, piagam Jakarta, usulan dasar negara oleh Moh.Yamin dan Soekarno, Dekrit Presiden 5 Juli 1959, Maklumat X Wapres tentang KNIP, istilah BPUPKI dan PPKI dalam bahasa Jepang serta beberapa pertanyaan mengenai pahlawan-pahlawan kemerdekaan Indonesia. Sedangkan pertanyaan tentang konsitusi negara meliputi UUD 1945 mengenai kedaulatan negara, struktural lembaga negara beserta fungsi dan kewajibannya (MPR, DPR, DPD), pemilihan umum serta lambang dan bendera Indonesia. Kemudian, pertanyaan tentang sejarah dunia meliputi masalah perang dunia I dan II, Piagam Atlantik dan Declaration of Human Rights.

Lantas, apakah materi-materi tersebut merupakan soalan yang sulit? Terlepas dari kontroversi sejarah yang berkembang di era kontemporer, soal-soal yang keluar dalam tes wawasan kebangsaan tersebut berdasarkan pengalaman penulis merupakan materi pelajaran yang diperkenalkan di level SMP dan SMA. Mungkin banyak pihak yang berargumen bahwa itu sudah lama dipelajari dan wajar kalau kita lupa. Namun, sebagai warga negara yang baik haruskah kita lupa dengan sejarah berdirinya bangsa kita sendiri? Lupa terhadap konstitusi negara kita sendiri? Memang penulis pribadi belum melakukan riset terendiri untuk mengetahui seberapa rendah nilai tes wawasan kebangsaan yang terjadi saat ini. Namun mendengar opini serta cerita yang penulis temui di lapangan setidaknya menjadi hipotesis tersendiri bagi penulis bahwa wawasan kebangsaan khususnya generasi muda memang sudah hilang entah kemana.

Wawasan Kebangsaan tentunya merupakan elemen penting dalam bernegara. Kepahaman kita terhadap bangsa dan negara akan membuat kita tahu bahwa sebagai warga negara kita punya tanggung jawab yang harus dimanifestasikan dalam segala perbuatan yang dilakukan dikehidupan berbangsa dan bernegara.

Ketidaktahuan terhadap beberapa peristiwa sejarah di masa lampau disertai ketidaktahuan dan ketidakpahaman terhadap konstitusi negara tentunya menjadi permasalahan serius bagi bangsa ini. Ketika kita tidak tahu apa yang menjadi alasan kita merdeka, seperti apa perjuangan kita untuk merdeka dan mengapa kemerdekaan tersebut harus dipertahankan maka wajar konflik dan pertikaian sosial terus terjadi. Hal ini karena kita semua telah lupa, lupa dengan makna persatuan yang dulu dikibarkan pendiri bangsa.

Ketidaktahuan dan ketidakpahaman terhadap konstitusi negara membuat kita tidak pernah tahu apakah bangsa ini benar-benar sudah berkedaulatan rakyat dan berdasarkan hukum sebagaimana yang diamanahkan oleh Undang-Undang Dasar. Ketidakpahaman ini membuat kita menjadi tidak tahu apakah yang dilakukan oleh penguasa saat ini menjungjung tinggi konstitusi atau justru mengkhianati konstitusi?.

Sayangnya, inilah realita yang terjadi. Banyak dari kita yang tidak mengenal bumi dimana dia berpijak atau langit dimana dia junjung. Bagaimana kita, para generasi muda Indonesia, akan mengurus dan mengelola segala rupa yang ada dalam bangsa ini jika kita tidak mengenal dengan baik tanah air ini?. Bukankah pepatah mengatakan bahwa tak kenal maka tak sayang dan tak sayang maka pun tak cinta?

Yah, siapapun yang membaca tulisan ini penulis persilakan untuk bertanya kepada diri masing-masing. Seberapa paham dan peduli kita terhadap bangsa ini? Karena dalam rasa peduli itulah nasib bangsa ini dipertaruhkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s