Leaders vs Followers ; Syarat Lain Untuk Menjadi Pemimpin Inspiratif*

Posted: March 28, 2013 in Politik Sosial dan Budaya
Tags: , ,

Andryan Wikrawardana

Selama ini mungkin kita selalu berpikir bahwa untuk menjadi pemimpin yang baik dan inspiratif maka seorang pemimpin harus visioner, selalu berenergi, mempunyai otoritas dan strategi yang jelas dalam kepemimpinannya.  Akan tetapi , Robert Goffe dan Gareth Jones , dalam tulisannya di Harvard Business Review di tahun 2000 dengan judul “Why Should Anyone Be Led by You?”  menemukan hal yang berbeda. Pemimpin yang inspiratif juga harus mempunyai empat hal lainnya seperti kemampuan memperlihatkan kelemahannya, intuisi ketika mengambil tindakan , rasa empati dan kemampuan untuk memperlihatkan keunggulan dan diferensiasi. Kemudian, mengapa hal ini menjadi penting dalam sebuah kepemimpinan?. Pada dasarnya pemimpin membutuhkan “follower” khususnya untuk mendistribusikan tugas dalam rangka mencapai tujuan bersama. Jika hanya mengandalkan visi, energi, otoritas dan strategi tanpa empat hal tersebut, kita bisa saja menjadi pemimpin, namun akan sedikit sekali orang yang mau mengikuti kepemimpinan Dengan empat poin yang dijelaskan diatas, seorang pemimpin akan mendapatkan sisi humanisnya yang akan memberikan sentuhan positif dalam aplikasi model kepemimpinannya.

Selain itu, dalam kajian kepemimpinan terkadang fokus pembahasan terlalu banyak membahas bagaimana sosok pemimpin. Padahal dalam organisasi , “follower” merupakan elemen penting yang mempengaruhi kesuksesan seorang pemimpin. Karena itulah, seorang pemimpin yang inspiratif juga harus mampu mengetahui seperti apa karakter para “follower” nya. Barbara Kellerman dalam artikelnya di Harvard Business Review di tahun 2007 “What Every Leader Needs to Know About Followers” mengupas mengenai tipologi baru para “follower“. Dengan memahami perbedaan karakteristik para “follower” akan memudahkan para pemimpin merumuskan apa yang seharusnya mereka lakukan dalam kepemimpinannya.

Mengapa pemimpin harus memperlihatkan kelemahannya?

Memperlihatkan kelemahan bagi seorang pemimpin akan memberikan banyak manfaat seperti menciptakan rasa percaya dan rasa tidak segan para follower untuk memberikan bantuan, membangun solidaritas dan kerjasama dalam tim , dan memberikan perlindungan bagi pemimpin itu sendiri. Beberapa kasus dapat kita gunakan untuk menjelaskan fenomena ini. Dalam Pilkada DKI Jakarta beberapa waktu yang lalu, beberapa kandidat mampu memperlihatkan kelemahannya sehingga rakyat tidak segan memberikan bantuan. Seperti yang dialami oleh calon gubernur independen Faisal Basri. Meskipun kalah dalam kontestasi pilkada yang lalu, Faisal Basri adalah salah satu contoh pemimpin yang mampu mengkomunikasikan ke publik kelemahannya dalam hal finansial. Tidak adanya dukungan partai politik dan pengusaha terhadap calon ini mampu dikomunikasikan dengan baik yang pada akhirnya menggerakkan pendukungnya untuk memberikan sumbangan sukarela dalam bentuk uang tunai yang akan digunakan sebagai logistik kampanye.  Selain ditopang dengan independensi dan visi-misi kandidat yang dirasa lebih intelektual, kondisi ini juga menciptakan soliditas dalam tim pemenangan yang bahu membahu membantu kandidat dilapangan.

Akan tetapi ketika seorang pemimpin merasa bahwa dirinya sempurna dan mampu melakukan apapun. Orang akan cenderung enggan memberikan bantuan dan tidak pernah tahu kapan pemimpinnya membutuhkan bantuan. Dan yang paling berbahaya adalah ketika semua orang berusaha mencari kelemahan pemimpin tersebut. Seperti yang dialami oleh Partai Keadilan Sejahtera baru-baru ini merupakan contoh menarik. Ketika kepemimpinan di PKS sangat mencitrakan institusi mereka sebagai partai yang sempurna , Islami dan bebas korupsi maka para lawan politik beserta media mencoba terus mencari celah untuk menjatuhkan partai ini. Ketika Presiden partainya terjerat kasus korupsi impor daging sapi, serangan media dan lawan politik begitu mengalir deras.

Intuisi ketika mengambil tindakan

Aspek penting lainnya untuk menjadi pemimpin inspiratif adalah intuisi dalam mengambil tindakan. Meminjam apa yang dituliskan oleh Robert Goffe dan Gareth Jones bahwa pemimpin harus “become a sensor“. Situasi selalu berubah dengan cepat, jika seorang pemimpin tidak pandai menangkap sinyal dan mengantisipasi perubahan maka institusi yang dia pimpin bisa jadi tergilas oleh perubahan tersebut. Apa yang terjadi dengan perusahaan Nokia bisa menjadi pelajaran yang cukup berarti. Nokia adalah produsen terbesar mobilephone di dunia sebelum blackberry dan beberapa perusahaan ponsel android mengambil alih dan menyebabkan Nokia mengalami degradasi yang luar biasa. Saya tidak begitu paham mengapa CEO Nokia terlalu idealis mempertahankan teknologi ponsel symbian ditengah kemunculan awal teknologi android. Jika saja dulu CEO nya lebih peka dan menangkap sinyal perubahan minat konsumen lebih dini tentunya Nokia masih bisa bersaing dengan perusahan mobilephone lainnya. Meskipun akhirnya mereka juga memproduksi ponsel android baru-baru ini tapi hal tersebut sudah sangat terlambat karena Nokia sudah terlalu lama menghilang dalam peredaran produksi mobilephone.

Sir Alex Ferguson adalah contoh manager sepak bola yang memiliki sensor yang kuat khususnya dalam mengorbitkan atau melakukan pembelian pemain tertentu. Ketika klubnya dikalahkan oleh seorang anak muda berusia 18 tahun dalam sebuah pertandingan persahabatan dengan segera Sir Alex Ferguson membeli pemain tersebut. Banyak pihak yang meragukan pembelian tersebut. Tapi pengalaman beliau dalam sepak bola menciptakan kemampuan sensor yang luar biasa dan membaca bahwa pemain tersebut memiliki potensi yang luar biasa. Alhasil, pemain muda yang tidak lain adalah Cristiano Ronaldo tersebut menjelma bintang bagi klubnya yang kemudian menjadi pemain termahal di dunia saat ini.

Intuisi ini tidak selamanya memberikan dampak positif. Terkadang, kemampuan ini menciptakan situasi sulit bagi seorang pemimpin untuk mengambil keputusan. Seperti halnya dengan kasus kenaikan harga BBM di Indonesia. Pemerintah sangat paham bahwa subsidi BBM di Indonesia telah menyerap porsi APBN begitu besar. Jika tidak segera dikurangi maka akan menyebabkan defisit terhadap ABPN. Menaikkan harga BBM merupakan kebijakan yang tidak populis dimasyarakat apapun alasannya. Apalagi saat ini sudah mendekati pemilihan umum presiden dan legislatif. Jika Presiden SBY menaikkan harga BBM saat ini maka ada kemungkinan elektabilitas Partai Demokrat akan mengalami penurunan.

Perhatian dan Empati

Pemimpin yang baik harus memiliki perhatian kepada orang yang dipimpinnya. Perhatian yang diberikan oleh seorang pemimpin kepada anggota organisasinya akan memberikan rasa nyaman serta rasa kebersamaan dalam organisasi. Perhatian tersebut dapat dimanifestasikan dalam dual hal yaitu rasa simpati dan empati. Terkadang pemimpin juga harus memberikan simpati atas prestasi yang didapatkan oleh anak buahnya. Rasa simpati ini akan membuat mereka merasa dihargai dan dapat menstimulus mereka untuk bekerja lebih giat dan lebih baik. Disisi yang lain, ketika anak buah mengalami kegagalan, pemimpin juga harus berempati untuk memberikan semangat kepada mereka agar segera bangkit kembali. Akan tetapi, ketika organisasi dalam situasi yang genting dimana kesalahan sulit untuk ditolerir pemimpin akan menghadapi situasi sulit. Sedikit sekali pemimpin yang mampu berempati dalam kondisi seperti ini. Terutama di dunia politik, banyak pemimpin melimpahkan kesalahan organisasi kepada anak buahnya untuk menjaga citra kepemimpinannya.

Mengapa pemimpin harus memperlihatkan keunggulan dan diferensiasi?

Keahlian khusus dibidang-bidang tertentu bisa menjadi nilai lebih bagi seorang pemimpin dimata “follower” nya. Akan tetapi ketika seorang pemimpin gagal mengkomunikasikan keunggulan mereka tersebut maka orang tidak akan pernah tahu. Sebagai contoh, ada seorang pemimpin yang cerdas, tapi kecerdasan tersebut sulit dikomunikasikan dengan lingkungan sekitarnya maka orang akan sulit memahami dan mewujudkan ide dari pemimpin seperti ini. Berbeda situasinya ketika pemimpin cerdas ini lebih lugas dan komunikatif. Ide-ide kreatif akan lebih mudah disampaikan. Suasana di organisasi akan lebih akrab dan cair. Akan ada rasa hormat dari “follower” kepada pemimpinnya karena dengan mengkomunikasikan kelebihannya, para pemimpin akan mendapat pengakuan bukan sekedar secara struktural saja namun pengakuan tersebut akan lebih bersifat alamiah dan kultural.

Sosok Jokowi dapat kita jadikan contoh untuk kasus ini. Jokowi mampu mencitrakan kelebihannya sebagai seorang pemimpin yang visioner, merakyat, peduli dan jauh dari kesan kaku khas lembaga birokrasi. Selain didukung dengan minimnya kepercayaan masyarakat Indonesia kepada pemimpin lainnya, kelebihan yang mampu disampaikan dengan baik oleh Jokowi ini membuat beliau dihormati bukan karena hanya posisinya sebagai Gubernur. Kecintaan dan rasa hormat masyarakat kepada Jokowi dibuktikan ketika ada pihak tertentu yang mengkritik Jokowi mereka secara spontan akan memberikan pembelaan dengan sukarela. Sebaliknya, ada pemimpin yang sebenarnya cerdas tapi mereka berlebihan menunjukkan keunggulan ini. Akibatnya, citra yang muncul dimata para “follower” nya adalah sosok yang arogan dan sombong. Pada akhirnya yang didapatkan hanyalah kebencian para “follower” nya dan bukan rasa hormat seperti yang diharapkan.

Tipologi “follower” dan mengapa kita harus tahu tentang mereka

“The distinction among followers are every bit as consequential as those among leaders-and have critical implications for how managers should manage” (Barbara Kellerman).

Ketika pemimpin tahu seperti apa orang yang mereka pimpin maka akan sangat mudah bagi mereka menentukan strategi seperti apa yang akan digunakan untuk mengoptimalkan upaya mencapai tujuan organisasi. Untuk mempermudah kita memahami para “follower” , Barbara Kellerman dalam tulisannya telah menciptakan tipologi baru mengenai karakter “follower”  dan alasan mengapa kita harus tahu tentang keberadaan mereka.

Ada “follower”   yang disebut Isolates dan By Standers. Secara umum kedua kelompok dengan tipe ini merupakan orang-orang yang tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekitar mereka. Orang yang masuk dalam klasifikasi ini cenderung terasingkan dari lingkungannya. Selama mereka melakukan tugas dengan baik, kelompok orang yang tergabung dalam klasifikasi ini tidak akan menjadi permasalahan. Tapi, organisasi/institusi akan mendapatkan permasalahan jika mereka memiliki orang dengan tipe ini dalam jumlah yang banyak.  Pada dasarnya “follower”  tipe ini cenderung statis dan tidak peduli terhadap perubahan. Jika perusahan dipenuhi oleh orang-orang seperti ini maka kreatifitas dan inivasi akan sangat sulit muncul. Pada akhirnya optimalisasi profit atau pencapaian tujuan organisasi akan sangat sulit terwujudkan. Pemimpin harus peka dan mencari tahu, apakah “follower”   dengan tipe ini ada dalam organisasi yang mereka pimpin dan mengapa sampai orang seperti ini ada. Pemimpin harus segera mengidentifikasi penyebab utama munculnya tipeini dan membuat kebijakan untuk menyelesaikannya.

Ada juga “follower”  yang diklasifikasikan dalam Participant, Activists dan Diehard. Ketiga tipe ini memiliki tingkat kepedulian terhadap institusi yang cukup tinggi. Bedanya, Tipe Participant lebih cair dan ambisius. Tipe ini cenderung memikirkan kepentingan dirinya sendiri. Sedangkan tipe Activists dan Diehard memiliki loyalitas yang tinggi terhadap institusi. Mereka lebih objektif dalam menyikapi suatu permasalahan dalam organisasi. Tipe Diehard adalah tipe yang sangat loyal dan biasanya merupakan orang kepercayaan dari pemimpin biasanya mengetahui informasi penting organisasi. Tipe ini akan sangat membahayakan jika berkhianat sehingga kelompok follower dengan karakter ini harus dijaga dengan seksama agar tidak berkhianat terhadap organisasi.

Menjadi Pemimpin yang Inspiratif

Seperti yang telah dijelaskan di awal bahwasanya menjadi seorang pemimpin yang inspiratuf tidak cukup hanya mengandalkan kekuatan visi dan kekuasan semata. Ada sisi humanis yang ternyata lebih penting untuk dikedepankan dalam sebuah kepemimpinan. Kita harus selalu ingat bahwa yang kita pimpin adalah sekelompok manusia , bukan mesin ataupun robot. Sentuhan humanis dalam mengelola organisasi akan membuat relasi antara pemimpin dengan “follower” lebih komunikatif dan saling menghormati. Kondisi ini akan mempermudah perwujudan tujuan organisasi kedepannya.

Selain itu, sebagai seorang pemimpin kita harus sadar bahwa kita membawahi dan mengatur banyak manusia yang memiliki perbedaan dalam hal karakter, kepentingan , kebutuhan hidup dsb. Dengan memahami perbedaan tersebut, kita dapat merumuskan strategi yang tepat untuk menghadapi tiap-tiap perbedaan yang ada tersebut. Dengan strategi tersebut sebagai pemimpin kita dapat menghindari permasalahan, konflik dan dinamika lainnya yang dapat mengganggu berjalannya aktivitas institusi/organisasi yang kita pimpin.

 

*Tulisan ini merupakan resume dari kajian dua artikel dengan judul “Why Should Anyone Be Led by You? ” oleh Robert Goffe dan Gareth Jones yang dimuat di Harvard Business Review di tahun 2000 dan What Every Leader Needs to Know About Followers oleh Barbara Kellerman yang dimuat di Harvard Business Review di tahun 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s