Fabiayyialaairobbikumatukadziban…

Posted: November 22, 2012 in Catatan Harian Saya
Tags:

Fabiayyialaairobbikumatukadziban…

(Maka nikmat Allah manakah yang engkau dustakan?)

Membaca salah satu ayat dalam surat Ar Rahman di atas membuat saya teringat dengan idul fitri yang lalu. Ketika rakaat kedua sholat ied, imam pun membaca surat tersebut. Entah kenapa ketika imam mulai sampai pada bacaan Fabiayyialaairobbikumatukadziban… yang pertama dalam surat tersebut hati saya tersentak. Ketika terdengar yang kedua, saya tiba-tiba terbayang betapa banyak nikmat Allah yang telah diberikan kepada saya. Ketika terdengar yang ketiga, betapa ngerinya saya ketika teringat bahwa seringkali hati ini meingkari nikmat-nikmat yang diberikan oleh Allah kepada saya. Dan hingga akhir imam membaca surat tersebut, tiada henti air mata saya mengalir menangisi betapa tidak bersyukurnya saya menjadi seorang manusia.

Memang benar bahwa Allah itu maha adil dan maha tahu apa yang tepat dan sesuai bagi hambaNya. Tapi kadang manusia seperti kita lah yang sering tidak pernah sadar dan bersyukur karena terlalu memaksakan nafsu keinginan pribadinya. Padahal apa yang kita inginkan tersebut tidak tepat dan malah bisa membahayakan diri kita sendiri.

Dulu, ketika masih SMA, betapa kuat keinginan saya untuk menjadi dokter, padahal jika mau diukur kemampuan saya waktu itu sangatlah biasa-biasa saja. Sempat pula saya ingin mengambil jurusan Elektro dan Pertambangan. Mengingat ketika itu saya ingin sekali kerja di perusahan pertambangan yang menurut saya waktu itu bisa memberikan saya pendapatan yang besar di masa depan. Tapi jika saya ukur kemampuan saya waktu itu, saya sangat tidak suka pelajaran fisika dan matematika. Padahal pelajaran tersebut akan saya temui sampai lulus jika jadi kuliah di jurusan tersebut.  Ditengah kebingungan ingin melanjutkan kuliah kemana,  disinilah nikmat Allah itu hadir. Entah kenapa akhirnya saya memilih jurusan perencanaan wilayah dan kota UGM dan akhirnya Alhamdulillah, saya lulus. Tapi walaupun sudah kuliah dan mendapatkan beasiswa dari pemerintah daerah, masih saja saya pernah merasa iri dan tidak bersyukur. Kadang masih ingin jadi dokter atau jurusan pertambangan.  Rasa iri tersebut akhirnya sirna berganti syukur yang tiada terkira tatkala saya menjenguk teman saya yang kecelakaan di UGD RS Sarjito. Ternyata, saya lemah melihat darah. Perasaan mual dan lesu meliputi tubuh saya ketika menyaksikan teman saya pasca kecelakaan tersebut. Karena tidak tahan, akhirnya saya muntah dan keluar dari UGD. Saat itulah saya sadar, Allah tidak memberikan jalan untuk saya jadi dokter karena saya memang tidak mampu untuk itu. Kejadian ini adalah buktinya. Bagaimana seorang dokter harus menjahit pasiennya kalau sang dokter takut melihat darah?? Fabiayyialaairobbikumatukadziban…

Sekalipun pernah mengalami peristiwa seperti di atas, entah kenapa saya masih saja pernah merasa iri dan kurang bersyukur. Pernah suatu saat saya pernah merasa iri dengan teman-teman jurusan perencanaan wilayah dan kota yang jurusannya sudah berdiri sejak lama (karena tempat saya kuliah prodi pwk baru berusia 4 tahun).  Mereka sudah punya himpunan mahasiswa yang terorganisir dengan baik serta jaringan alumni yang kuat. Sedangkan waktu itu, tempat saya kuliah benar-benar masih baru dan dalam tahap awal mencari jati dirinya. Tapi sebenarnya disinilah nikmat Allah yang diberikan kepada saya dan juga kepada teman-teman saya. Allah memberikan saya kesempatan untuk menjadi generasi yang menciptakan sejarah di prodi pwk UGM yang tidak akan didapatkan oleh teman-teman saya yang berkuliah di tempat yang sudah berdiri sejak lama. Allah memberikan saya dan teman-teman saya kesempatan untuk dikenang oleh generasi 20-30 tahun kedepan. Dan itu merupakan nikmat yang tiada terkira nilainya.  Fabiayyialaairobbikumatukadziban…

Memang benar, manusia adalah makhluk yang lemah. Ketika sudah mencoba mensyukuri nikmat Allah yang diberikan, kadang ada saja ujian yang membuat kita kembali menjadi orang yang bisa lupa bersyukur. Saya pernah merasa sangat kecewa ketika saya gagal menjadi dosen di almamater saya. Kekecewaan yang benar-benar membuat saya drop selama 3 bulan. Mungkin waktu itu saya terlalu percaya diri bakal diterima sehingga saya sudah membuat rencana hidup yang demikian matang. Namun realita berkata lain, rencana yang saya buat gagal total. Tapi sebenarnya kekecewaan yang saya dapatkan tersebut adalah nikmat Allah yang hampir saya dustakan. Pasca kegagalan tersebut, secara tidak sengaja ketika sedang bingung mau ngapain saya mencoba mencari informasi tentang program master di magister ekonomika pembangunan UGM. Dan Allah memberikan nikmatnya, saya diterima dan mendapatkan beasiswa riset kerja sama MEP dengan Norwegia (yang Alhamdulillah jumlahnya). Dari beasiswa riset ini selain pengalaman dan financial banyak peluang-peluang tertentu yang saya dapatkan untuk merakit masa depan baru.    Fabiayyialaairobbikumatukadziban…

Hmmmm…. Pada akhirnya, saya bercerita ini bukan untuk maksud apa-apa. Saya ingin berbagi pengalaman tentang hikmah hidup yang pernah saya alami. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa Allah begitu sayang kepada hambaNya, sekalipun kadang ada gerutuan dihati tatkala menerima kenyataan, Allah tetap memberikan nikmat dan karuniaNya. Mungkin ada teman-teman yang merasakan lebih dari apa yang saya alami. Atau sebaliknya, ada yang mengalami tapi belum menyadari. Semua memang kembali pada diri masing-masing. Tapi, jika kita mau benar-benar berpikir , Fabiayyialaairobbikumatukadziban… sebenarnya adalah sebuah bukti nyata, tidak sepantasnya kita mengingkari nikmat Allah. Cobalah renungkan…. apakah kita masih mendustakan nikmat Allah saat ini??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s