Kutukan Sumber Daya Alam; Ketika Kekayaan Alam Tidak Mensejahterakan

Posted: November 19, 2012 in Politik Sosial dan Budaya
Tags:

Andryan Wikrawardana

Prolog

Seyogyanya, pemberian Tuhan akan kekayaan sumberdaya alam kepada suatu negara adalah adalah suatu anugrah. Karena dengan kekayaan sumberdaya alam  seperti minyak dan gas bumi, batubara , emas, serta barang tambang lainnya adalah potensi ekonomi bagi suatu negara untuk mensejahterakan rakyatnya.

Akan tetapi, beberapa fenomena yang terjadi negara berkembang menggambarkan kekayaan sumber daya alam yang ada  tidak membawa dampak positif terhadap kesejahteraan masyarakatnya dan lebih sering menciptakan permasalahan dan konflik yang membawa negara tersebut terus mengalami kemiskinan dan keterbelakangan. Paradoks seperti ini dalam beberapa literatur dikenal sebagai “Kutukan Sumber Daya Alam” (Resource Curse).

Negara-negara yang yang memiliki kekayaan sumberdaya alam cenderung memiliki indeks pembangunan manusia yang rendah. Hal ini  diceritakan dalam buku “Escaping The Resource Curse” di mana negara kaya sumberdaya alam seperti Gabon, Kongo, Yaman, Nigeria, Angola dan Chad berada pada posisi terbawah dalam Human Development Report 2005 yang dikeluarkan oleh PBB. Selain itu juga dijelaskan meskipun beberapa negara  yang kaya sumber daya alam memiliki indeks pembangunan manusia yang cukup baik, permasalahan kesenjangan sosial antar masyarakatnya  masih sangat besar.

Apakah Indonesia terkena Resource Curse ?

Menurut penulis secara pribadi, saat ini Indonesia bisa dikatakan terkena “Resource Curse”. Beberapa gejala seperti yang terjadi dibeberapa negara berkembang lainnya juga dialami oleh Indonesia.

Pertama,  sebagai salah satu negara yang dianugrahkan kekayaan sumber daya alam yang melimpah, ironisnya kualitas sumber daya manusia dan jumlah masyarakat miskin di Indonesia khususnya di daerah-daerah penghasil sumber daya alam masih sangat buruk. Sebagai contoh di Papua berdasarkan data BPS tahun 2012 bahwa persentase kemiskinan di Papua masih cukup tinggi yaitu sebesar 31 %. Begitu pula dengan Indeks Pembangunan Manusia yang masih berada pada angka 64 jauh dibawah rata-rata Nasional yang mencapai 72,7.

Kedua, kesenjangan sosial di Indonesia juga masih sangat tinggi. Indikasinya adalah publikasi Badan Pusat Statistik pada tahun 2012 yang menyebutkan, tingkat kesenjangan di Indonesia meningkat dari 0,32 (2004) menjadi 0,41 (2011). Selain itu, total pendapatan 20 persen masyarakat terkaya mengalami peningkatan dari 42,07 persen (2004) menjadi 48,42 persen (2011). Sedangkan total pendapatan 40 persen masyarakat termiskin mengalami penurunan dari 20,8 persen (2004) menjadi 16,85 persen (2011).

Oleh karena itu, sudah saatnya kita mencoba melepaskan diri dari kutukan sumber daya alam ini. Jika tidak maka bangsa ini akan terus saja miskin, terbelakang dan tertinggal di tengah langkah kemajuan bangsa-bangsa lain.

Melepaskan Indonesia dari Resource Curse

Pada dasarnya, Resource Curse disebabkan oleh kegagalan Pemerintah dalam mengelola kekayaan sumber daya alam yang ada untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya.  Di Indonesia hasil-hasil sumber daya alam seperti minyak dan gas bumi cenderung di ekspor sebagai bahan mentah sehingga tidak menciptakan value added bagi masyarakat. Selain itu , berbagai perjanjian kontrak karya pertambangan juga cenderung berat sebelah. Hal ini menyebabkan keuntungan sumber daya alam yang melimpah di Indonesia lebih banyak dinikmati oleh korporasi asing daripada rakyatnya sendiri. Belum lagi berbagai permasalahan seperti konflik sosial dan kerusakan ekologi yang terjadi di beberapa daerah eksploitasi sumber daya alam Indonesia.

Untuk lepas dari kutukan ini, ada beberapa hal yang dapat kita lakukan dalam mengelola kekayaan alam yang ada di Indonesia. Meninjau ulang kontrak karya pertambangan adalah hal pertama yang harus dilakukan karena kontrak karya peninggalan masa lalu banyak yang sudah tidak relevan dengan kondisi saat ini. Dan yang paling penting adalah kedaulatan bangsa harus diutamakan dalam pengelolaan sumber daya alam negeri ini.  Pengelolaan kekayaan sumber daya alam tidak boleh membuat masyarakat Indonesia hanya menjadi penonton yang terdiam melihat kekayaan negerinya diangkut habis oleh perusahaan asing.

Kedua, sudah saatnya Indonesia melakukan investasi pada sektor pendidikan dan teknologi. Dengan investasi di bidang pendidikan dan teknologi , dimasa yang akan datang kita akan mempunyai sumber daya manusia yang sanggup mengelola sumber daya alam kita secara mandiri. Investasi di bidang pendidikan dan teknologi ini sangatlah penting. Karena pada hakikatnya sumber daya alam seperti minyak, gas, batu bara dan mineral lainnya tidak dapat diperbaharui. Indonesia harus mempersiapkan masyarakatnya untuk melakukan diversifikasi keahlian yang mendukung bergeraknya sektor ekonomi lainnya. Banyak kisah yang menceritakan kota-kota yang mati perekonomiannya ketika minyak, gas dan batubaranya sudah tidak ada lagi. Kota-kota tersebut tidak mempersiapkan sektor ekonomi lainnya untuk menopang ketergantungan terhadap mineral tersebut. Maka dari itu, Indonesia harus mulai berpikir cepat untuk keberlanjutan perekonomian di masa yang akan datang.

Ketiga, perilaku rent seeking behaviour (pemburu rente) harus dimusnahkan. Dalam pengelolaan kekayaan sumber daya alam , pihak swasta , pemerintah dan politisi memiliki peluang menyalahgunakan kewenangan mereka untuk mendapatkan keuntungan. Prilaku seperti korupsi dan kolusi antar aktor yang berkepentingan dengan sektor migas, batubara dan mineral lainnya sudah menjadi rahasia umum yang terus terjadi. Hal ini jelas hanya memperburuk permasalahan yang ada dan merugikan negara.

Keempat, melakukan pembangunan nasional secara adil dan merata. Kesalahan besar adalah ketika kita sering memperlakukan daerah-daerah penghasil sumber daya alam hanya sebagai sapi perah. Masyarakat lokal daerah penghasil sumber daya alam terkadang hanya menjadi penonton dan tidak menikmati kekayaan mereka sendiri. Kondisi ini sejatinya adalah bom waktu yang siap meledak. Konflik sosial dan separatisme karena ketidakadilan akan menjadi masalah serius yang mengganggu stabilitas bangsa.

Epilog

Sebenarnya, beberapa solusi untuk lepas dari kutukan sumber daya alam tersebut sudah sangat sering dilontarkan oleh para pengamat, LSM, pemuka agama , akademisi dan mahasiswa. Akan tetapi, semua itu kembali lagi pada keberanian dan kemauan kepemimpinan nasional saat ini. Segala upaya menyelamatkan Indonesia dari “Resource Curse” tidak akan pernah tercapai jika nakhoda republik ini justru melakukan hal-hal yang bertolak belakang. Kepemimpinan Nasional harus memiliki keberanian, ketegasan dan keberpihakan yang nyata terhadap rakyat. Jika tetap saja membisu terhadap realita yang ada, penulis khawatir, kekayaan alam Indonesia benar-benar menjadi kutukan dan (semoga jangan sampai) membuat Nusantara ini hanya tinggal cerita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s