Bond, Bepe dan Beye

Posted: November 5, 2012 in Politik Sosial dan Budaya
Tags: , ,

Andryan Wikrawardana

Entah kenapa tiba-tiba saya ingin menulis tentang tiga tokoh yang mungkin sudah tidak asing lagi ditelinga kita. Didasari karena tiga tokoh ini menjadi  topik pembicaraan di media massa beberapa hari ini namun tentunya di halaman yang berbeda.

Bond, atau lengkapnya James Bond , karakter fiktif Agen Rahasia Inggris yang sudah nongol di bioskop sejak jaman orang tua saya kecil yang film sekuel terbarunya yang berjudul “Skyfall” baru saja rilis. Seminggu ini koran,tv,twitter masih hangat membicarakan romantika film terbaru ini. Dari pujian tentang filmnya atau kekecewaan yang tak kunjung habis terhadap pemeran James Bond yang katanya kurang flamboyan dan malah lebih mirip tukang pukul maupun kicauan tentang ramainya antrian tiket dibioskop.

Selanjutnya adalah Bepe, sapaan khas kapten timnas sepakbola Indonesia, Bambang Pamungkas. Konflik antara PSSI dan KPSI seolah tak mau berakhir. Imbasnya tentu saja ke persiapan timnas Indonesia yang sebentar lagi akan bertanding di kejuaraan AFF. Larangan klub yang bernaung di bawah panji KPSI terhadap pemain sepakbola indonesia untuk bergabung ke timnas besutan Nil Maizar memang rumit. Alih-alih bergabung, KPSI pun membentuk timnas sendiri dengan pemain yang berasal dari klub yang mendukung mereka. Entah angin apa yang akhirnya membawa Bepe memutuskan untuk bergabung bersama timnas PSSI. Keputusan yang sama seperti film bond tadi, melahirkan pujian dan cacian. Pujian karena keberanian bersikap ditengah konflik, cacian karena tudingan tidak loyal terhadap klub dan tudingan miring sebagai kutu loncat (karena tidak dipakai di timnas KPSI, bepe pun menyebrang ke timnas PSSI yang masih menerima dia untuk bermain).  Suatu sikap yang kata orang lebih seperti politisi, bukan pemain bola. (Walaupun orang yang bilang itu malah menurut saya lebih politis lagi prilakunya).

Yang ketiga adalah Beye. Entah siapa yang mempopulerkan sebutan Beye ini. Ada yang menganggap biasa, ada juga yang menganggap panggilan ini berkonotasi ejekan. Tapi ketika kita menyebut Beye, semua orang di Republik Indonesia tahu bahwa yang sedang dibahas adalah Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono.  Sama seperti Bond dan Bepe, Beye dalam seminggu terakhir menghias halaman depan media massa Indonesia. Pemberian gelar oleh Kerajaan Inggris memunculkan banyak pertanyaan. Ada maksud apa dibalik semua ini?. Ada yang berkomentar positif bahwa pemberian gelar ini sebagai bentuk apresiasi terhadap prestasi Indonesia khususnya beye dalam menjaga iklim demokrasi di Indonesia. Ada juga yang negatif menganggap bahwa gelar tersebut merupakan upaya melicinkan perpanjangan kontrak perusahan tambang milik Inggris untuk terus beroperasi di Indonesia.

Kemudian, apa hubungan ketiga tokoh ini? Bagi saya ketiga tokoh ini memiliki irisan dalam hal “peluang mengambil sikap dan keputusan”. Bond dalam “skyfall” (diceritakan di awal film) terkena tembakan oleh rekannya sendiri dalam pengejaran terhadap orang yang mencuri data rahasia tentang nama-nama agen rahasia Inggris yang menyamar sebagai teroris diberbagai belahan dunia. Dalam pergulatan di atas kereta, M , sang pimpinan MI6 pun memutuskan agar partner Bond dalam pengejaran tersebut untuk menembak sang pencuri data. Tapi apa daya, karena sasaran yang sangat sulit akhirnya yang tertembak malah James Bond sendiri. Alhasil, pencuri data kabur, dan Bond diindikasikan tewas. Meskipun ternyata masih hidup, luka tembak tersebut menyebabkan trauma yang cukup dalam bagi Bond. Kemampuan lapangan yang menurun serta kekecewaan mendalam dan perasaan dikhianati terhadap pimpinan atas instruksi yang malah membahayakan sang agen membuat Bond tenggelam dalam kegalauan yang sulit untuk saya jelaskan. Tapi, serangan terhadap markas besar MI6 di London oleh kelompok penjahat (yang ternyata adalah mantan agen MI6 sendiri) menggugah hati Bond untuk kembali lagi ke MI6 dan membantu organisasi agen rahasia Inggris tersebut untuk menangkap siapa penjahat dibalik teror tersebut. Mungkin pernyataan saya terlalu berlebihan, tapi menurut saya, Bond yang walaupun hampir kehilangan nyawa , diliputi perasaan kecewa dan trauma masih memiliki kecintaan terhadap negaranya yang sedang mengalami ancaman teror.

Bagaimana dengan Bepe?. Bagi saya , Bepe adalah teladan bagi semua pemain sepak bola Indonesia. Terlepas dari hal-hal yang tidak saya ketahui yang dihembuskan oleh orang mengenai dia.  Bagi saya, Bepe sangat unik , fenomenal dan intelektual. Selama saya mengenal sepakbola Indonesia, saya belum pernah menemukan pemain bola seperti Bepe. Sekalipun hanya menonton lewat TV, saya merasakan keteguhan mental dan kharisma kepemimpinan dalam dirinya. Dan saya tidak pernah melihat itu dalam diri kapten timnas sebelumnya (tentunya sejak saya tahu bola).

Pilihan Bepe untuk bergabung dengan timnas PSSI bagi saya adalah sebuah keputusan yang ingin Bepe lakukan untuk mengakhiri konflik yang ada. Mengapa demikian? Alasan Bepe untuk memilih timnas PSSI karena timnas tersebut yang sudah diakui oleh AFF untuk bertarung di kejuaraan piala AFF desember nanti. Terlepas dari konflik kepentingan cukong bola yang sedang bertarung berebut kekuasaan di PSSI, harusnya pemain jangan menjadi korban. Keputusan Bepe memilih timnas PSSI menurut saya adalah untuk menunjukkan bahwa dia adalah individu yang bebas menentukan pilihannya serta memilih berdasarkan argumentasi yang jelas bukan atas dasar tekanan. Kebanyakan pemain bola yang lain takut bergabung dengan timnas PSSI karena takut karena tekanan serta larangan klub yang bernaung di bawah KPSI. Keputusan Bepe tersebut, bagi saya adalah sebuah gerakan moral untuk menyadarkan pemain lainnya.

Jika kita mau objektif, apa sih kemampuan Bepe saat ini? Jika dibandingkan pemain lain, skill Bepe sudah jauh dari era keemasannya.  Menurut saya Bepe pun sadar akan hal itu. Tapi yang Bepe miliki saat ini dan itu tidak dimiliki oleh pemain lain adalah keberanian bersikap, mental dan kharisma kepemimpinannya. Dibandingkan dengan skill mumpuni dalam mencetak gol, kapasitas seperti itu lebih dibutuhkan saat ini dalam sepakbola Indonesia. Dan (mungkin) Bepe juga sadar, hanya itu yang bisa dia lakukan untuk menyelamatkan sepakbola Indonesia, olahraga yang sangat dia cintai.

Terakhir, adalah Beye. Saya selalu kehabisan kata-kata positif untuk mendeskripsikan tentang Beye. Dibandingkan dengan Bond dan Bepe, Beye adalah penguasa. Bond hanyalah agen rahasia yang bekerja di Lapangan. Bertugas juga atas dasar intruksi atasan. Sama halnya dengan Bepe. Bepe hanyalah pemain sepakbola. Hanya punya pasukan dalam lapangan.

Beye adalah Komandan tertinggi bagi seluruh pesawat tempur tercanggih, pasukan perang terelit  dan armada laut di Nusantara. Beye Memenangkan pemilu dengan suara mayoritas. Beye adalah ketua dewan pembina partai terbesar pemenang pemilu di Indonesia. Beye jauh lebih superior dibandingkan Bond dan Bepe.  Tapi yang membedakan Beye dengan Bond dan Bepe adalah keberanian dalam bersikap. Apakah belum cukup penderitaan rakyat Indonesia yang kekayaan alamnya dikuras habis oleh korporasi asing? Disisi lain bargaining power Indonesia yang begitu lemah menyebabkan banyaknya perjanjian yang merugikan dan juga tindakan bangsa lain yang sering menganggap Indonesia dengan sebelah mata. Belum lagi dinamika internal bangsa yang masih ramai terjangkit masalah kemiskinan, korupsi, kolusi, nepotisme serta konflik-konflik sosial lainnya.

Saya paham, posisi Beye tidaklah semudah posisi Bond ataupun Bepe. Tapi setidaknya, sikap Bond dan Bepe seharusnya menjadi pelajaran bagi Beye untuk mulai merubah sikap dan kebijakannya. Beye adalah seorang militer, sama seperti Bond. Tentunya dalam militer doktrin tentang kecintaan terhadap Negara dan Bangsa begitu kuat ditanamkan. Dalam hati, saya rasa Beye juga sama dengan Bepe. Beye adalah manusia bebas yang seharusnya juga dapat menentukan sendiri pilihan kebijakannya dan bukan ditentukan oleh orang atau negara lain.

Hmmmm…..Dan pada akhirnya, Bond, Bepe dan Beye adalah manusia biasa……

Meskipun harapan orang terhadap mereka sangatlah luar biasa. Ada yang tersampaikan dengan kata-kata,ada yang diungkapkan melalui airmata, ada pula yang ditunjukkan dengan aksi massa. Namun semua pada akhirnya semua harapan tersebut akan berujung dan  bersimpuh dalam Doa. Semoga apa yang saya coba kemukakan tentang ketiga tokoh ini menjadi bahan renungan bagi kita semua.

Perpustakaan MEP UGM

12.22 WIB

5 November 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s