BENCANA WASIOR, DEFORESTASI ATAU BENCANA ALAM BIASA ?

Posted: October 5, 2010 in Lingkungan Hidup
Tags: , , ,

Andryan Wikrawardana

Puluhan rumah hanyut, infrastruktur rusak, 134 warga tercatat meninggal dunia dan puluhan lainnya masih hilang dan dalam proses pencarian. Mungkin itulah kondisi yang saat ini terjadi di Wasior, ibu kota Kabupaten Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat. Bencana banjir bandang pada Senin (4/10/2010) pagi meninggalkan luka yang begitu mendalam bagi seluruh rakyat Indonesia khususnya masyarakat Papua.

Mencari Alibi vs Fakta Sebenarnya

Dugaan penyebab terjadinya bencana mulai bermunculan. Pemerintah melalui Menteri Pekerjaan Umum mengungkapkan bahwa bencana ini disebabkan adanya evolusi morfologi atau perubahan bentuk tanah yang terjadi dilokasi bencana. Perubahan bentuk tanah yang terjadi berulang-ulang di wilayah datar dan terjal ini menyebabkan kondisi alam tidak seimbang. Lain halnya dengan pendapat Menteri Kehutanan terkait dengan bencana Wasior ini. Menteri Kehutanan menegaskan bahwa sebenarnya wilayah Wasior tidak layak huni. Pendapat ini diperoleh setelah pihaknya melakukan investigasi mendalam pasca banjir bandang yang terjadi. Wasior menurut menteri Kehutanan dilewati lempeng Australia sehingga banyak terjadi patahan atau tanah ambles. Ditemukan bahwa bagian hulu DAS Manggarai menunjukkan bekas amblesan, sehingga membentuk lembah di antara perbukitan. Lembah yang terbentuk inilah kemudian menahan limpasan air yang ditambah dengan air banjir normal. Dua statement yang menolak dengan tegas bahwa bencana Wasior ini terjadi bukan karena kerusakan hutan akibat eksploitasi hutan secara legal maupun pembalakan liar (illegal logging) yang terjadi di hutan Papua Barat.

Namun kondisi ini sangat kontradiktif jika kita melihat temuan serta data terkait deforestasi yang terjadi di Papua Barat. Penelitian yang dilakukan beberapa aktivis lingkungan seperti Institut Hijau Indonesia awal tahun 2010 bahwa deforestasi hutan di Papua Barat pada 2005-2009 telah mencapai 1 juta hektar. Hal ini semakin diperparah dengan beberapa penerbitan Izin Pemanfaatan Kayu (IPK) seluas 3,5 juta hektar termasuk 196.000 ha yang berada di Kabupaten Teluk Wondama tempat lokasi bencana terjadi. Belum lagi jika melihat dari hal lainnya seperti konsesi pertambangan. Saat ini di papua Barat hutan seluas 3,9 juta hektar juga dibebani oleh HPH 20 perusahan serta 2,7 juta hektar untuk 16 perusahaan tambang mineral. Jika semua membabat habis hutan di Papua Barat setiap tahunya untuk mengeskploitasi kayu atau hasil hutan lainnya maupun kegiatan pertambangan kerusakan lingkungan yang parah adalah suatu kepastian.

Dua temuan yang berbeda dengan mewakili kepentingan yang berbeda menghadirkan banyak pertanyaan. Apakah benar bencana Wasior yang menimbulkan banyak korban ini disebabkan oleh adanya evolusi morfologi tanah yang menyebabkan kondisi alam yang tidak seimbang. Ataukah alibi tersebut untuk mencari alasan serta menutupi kerusakan hutan atas eksploitasi yang berlebihan oleh pihak-pihak tertentu yang artinya bahwa bencana yang terjadi sesungguhnya merupakan sebuah bencana ekologis?.

Momen Introspeksi Diri

Terlepas dari apa penyebab bencana ini sesungguhnya,kita paha, bahwa bencana Wasior ini merupakan bencana alam yang kesekian kalinya dengan beragam dugaan terkait dengan kerusakan lingkungan. Seharusnya bencana yang ada menjadi momen introspeksi diri bagi semua pihak. Kalaupun memang ada pihak yang merasa tidak terjadi eksploitasi hutan secara berlebihan, maka bencana yang terjadi adalah sebuah peringatan bahwa jika kita tidak preventif dan peduli terhadap lingkungan maka akan banyak kerugian yang akan kita derita di masa yang akan datang. Evaluasi terhadap konsesi pertambangan maupun Hak Pengelolaan Hutan serta izin-izin eksploitasi lainnya perlu dilakukan. Hal ini didasari kebijakan yang ada terkait masalah tersebut masih tumpang tindih dan berbenturan dengan kepentingan-kepentingan konservasi maupun kebijakan penataan ruang wilayah.

Dan seandainya memang dugaan kerusakan lingkungan benar-benar terjadi maka harus segera ada solusi konkret untuk tidak sekedar memperbaiki kerusakan alam yang ada namun juga menindak tegas para pelaku pengerusakan lingkungan tersebut. Karena selama ini para penjahat lingkungan seringkali lolos dari hukuman atau hanya mendapatkan hukuman ringan. Hal ini tidak akan menimbulkan efek jera dan terus akan memicu munculnya penjahat-penjahat perusak lingkungan yang baru.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s