Banjir (telah) Datang (Lagi). Mencoba mendiskusikan solusi melalui penataan ruang

Posted: February 15, 2010 in Penataan Ruang
Tags: ,

Andryan Wikrawardana

Fenomena Rutin

Fenomena banjir seolah menjadi rutinitas tahunan yang terjadi di Indonesia. Apakah itu di kawasan perkotaan maupun di rural area tidak pernah lepas dari terjangan banjir setiap tahunnya.  Tidak berfungsinya drainase di perkotaan akibat timbunan sampah yang semakin diperparah dengan daya serap tanah yang semakin kecil karena  lingkungan terbangun yang semakin merajalela menjadi alasan klasik yang selalu diberitakan tanpa ada usaha nyata menciptakan solusi penanggulangannya.

Fenomena banjir setiap tahunnya selalu menghadirkan multiplier effect negatif. Rusaknya infrastrukur, bangunan pemukiman, fasilitas umum , timbulnya korban jiwa akan semakin memperkeruh dan menambah penderitaan semua elemen masyarakat.  Banjir akan menghambat segala aktivitas serta mobilisasi manusia. Banjir akan menghilangkan kenyamanan berkehidupan bukan hanya pada tataran persepsi namun menjadi realita di lapangan yang seharusnya menjadi perhatian prioritas.

Solusi Parsial

Fenomena banjir yang semakin akut menuntut hadirnya solusi yang cepat, tepat dan akurat. Meskipun tidak dapat dipungkiri, berbagai macam keterbatasan selalu ada ketika solusi yang telah dirumuskan akan bermanisfestasi dan berproses dalam tindakan implementasi.

Pembangunan “banjir kanal” sebagaimana yang telah dilakukan diklaim oleh beberapa pihak sebagai langkah yang cukup efektif. Namun solusi tersebut hanya bersifat parsial dan belum menyentuh akar dari permasalahan sebenarnya. Beberapa solusi lainnya seperti pengoptimalan fungsi drainase perkotaan serta pengelolaan sampah perkotaan juga telah dilakukan namun belum memberikan hasil yang optimal.

Tata Ruang Sebagai Solusi Jangka Panjang

Dewasa ini tidak seorangpun menafikan peran penataan ruang dalam kehidupan ruang suatu wilayah. Namun masih sangat sulit melihat konsistensi dan komitmen dalam implementasi Rencana Tata Ruang suatu wilayah.

Fenomena banjir jika ditinjau lebih dalam terjadi karena permasalahan penataan ruang yang terus menerus terjadi. Alih fungsi lahan yang tidak terkendali, baik di kawasan lindung maupun kawasan budidaya yang berdampak pada rusaknya keseimbangan ekosistem dan penurunan produktivitas. Berkurangnya kawasan lindung yang berfungsi sebagai resapan menjadi bangunan gedung dan villa-villa bodong milik kawanan elit  seringkali menjadi penyebab utama bencana banjir yang terjadi. Konflik kepentingan terhadap ruang sering kali menepikan kondisi-kondisi jangka panjang. Dan ketika bencana datang, keluh kesah dan penyesalan bergelora.

Dalam rangka mengatasi permasalahan banjir yang seolah menjadi siklus tahunan, seharusnya, penataan ruang yang mencakup tahapan perencanaan , pemanfaatan , dan pengendalian merupakan satu pendekatan yang dapat mewujudkan keinginan akan ruang yang lebih baik di masa yang akan datang serta solusi jangka panjang yang komprehensif. Melalui pendekatan penataan ruang, ruang kehidupan direncanakan menurut kaidah-kaidah akademis dan rasionalitas positif yang menjamin aspek keberlanjutan agar memberikan kenyamanan bagi masyarakat. Rencana tata ruang akan menzonasi secara jelas terkait fungsi-fungsi ruang serta kesesuaiannya dengan eksisting di lapangan. Rencana tata ruang akan memproyeksikan arahan perkembangan ruang serta kebutuhan yang harus disediakan untuk menghadapi perkembangan tersebut. Rencana tata ruang diharapkan mampu mengarahkan perkembangan tersebut dengan menciptakan kenyamanan dan kesejahteraan masyarakat yang berkelanjutan. Selanjutnya rencana tersebut menjadi “guideline” dalam pelaksanaan pembangunan yang diikuti dengan upaya pengendalian agar pemanfaatan ruang yang berkembang tetap sesuai dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan.

Namun, apalah artinya jika hanya sebatas rencana. Perencanaan tata ruang yang telah ada harus dioperasionalkan dengan komitmen serta konsistensi yang intensif. Rencana Tata Ruang yang ada harus menjadi aksi nyata di lapangan , bukan dokumen formalitas belaka. Jika tidak diimplementasikan dengan komitmen serta konsistensi yang tinggi, maka kejadian serupa akan selalu terulang.

Penutup

Hujan boleh saja datang , namun harus datang sebagai anugrah, bukan untuk menciptakan tangis apalagi melukai hati. Keseimbangan adalah kunci dari proses penciptaan kenyamanan dan keberlanjutan hidup dalam suatu ruang wilayah. Penataan Ruang melalui implementasi yang komitmen dan konsisten adalah sebuah tindakan revolusi yang harus segara dilaksanakan. Bukan sekedar mengejar solusi parsial semata, namun mulai mencari solusi jangka panjang untuk menghadirkan masa depan bagi masyarakat yang lebih baik di masa yang akan datang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s