Beriman, Berilmu, Beramal ;Suatu Upaya Mengembalikan Kejayaan HMI

Posted: June 23, 2009 in Gerakan Mahasiswa
Tags: , , , ,

Andryan Wikrawardana

 

Prolog

Secara empirik, mahasiswa telah mendorong berbagai perubahan diseluruh sendi kehidupan masyarakat, terutama dalam menggali dan mengembangkan ilmu pengetahuan sesuai kebutuhan jaman yang terus berpacu dengan tekhnologi. Sejarah juga tidak menafikan prestasi yang diraih dalam pembangunan fisik maupun mental masyarakat, berbagai perubahan yang digulirkan oleh mahasiswa telah mengantarkan kondisi sosial, politik dan ekonomi pada iklim peradaban yang lebih baik.

Aktivitas-aktivitas mahasiswa selain membaca, menulis, berdiskusi dan melakukan penelitian atau kajian-kajian ilmiah, mahasiswa juga berkewajiban mengabdikan diri pada masyarakat. Artinya aktivitas mahasiswa tidak terbatas pada lingkup kampus saja , namun lebih dari pada itu mahasiswa dituntut memanifestasikan dan mencurahkan intelektualnya kepada lingkungan masyarakat, sehingga dapat ditarik darinya manfa’at demi terselenggaranya pembangunan manusia seutuhnya dalam berbangsa dan bernegara dan terus melakukan pergerakan menuju arah perbaikan baik secara struktural maupun kultural.

Mahasiswa adalah elemen unik yang hadir di tengah masyarakat. Kehadirannya yang senantiasa diwarnai kekritisannya dalam merespon isu-isu yang berkembang di masyarakat membuat mahasiswa memiliki peran strategis. Sikap kritis tersebut bukanlah hal instan yang muncul begitu saja dari kepribadian seseorang. Sikap kritis dibangun melalui sebuah proses panjang yang berkesinambungan dimana seseorang belajar. Organisasi merupakan salah satu gerbang pembelajaran tersebut.

Karena itulah Mahasiswa dan Organisasi adalah satu kesatuan yang tidak bisa terpisahkan karena mahasiswa membutuhkan wadah untuk mengembangkan intelektualnya, menyalurkan ide dan aspirasinya, fasilitas dalam pergerakannya dan sarana dalam berinteraktif, berkomunikasi dengan komunitasnya dan masyarakat baik intra maupun ekstra kampus. Disini mahasiswa akan menuangkan segala pemikiran dan merealisasikannya sebagai proses pembelajaran intelektual dan keilmuan yang telah dimilikinya.

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) merupakan organisasi kemahasiswaan, yang bernafaskan keIslaman dan berlandaskan keIndonesiaan, dibangun oleh Lafran Pane pada 5 Februari 1947, seorang mahasiswa yang tergerak hatinya melihat minimnya pengajaran Islam kepada mahasiswa saat itu. Sejarah membuktikan kontribusi kader-kader HMI terhadap bangsa ini.

Dewasa ini eksistensi HMI terus diuji kemampuannya. Antusiasme mahasiswa sebagai calon kader menunjukkan penurunan yang signifikan. Era tahun 1990-an, tepatnya pasca reformasi tahun 1998 HMI terasa mengalami kemunduran serius baik dari sisi kualitatif maupun kuantitatif. Citra populis yang pernah melekat pada pundak HMI bergeser menjadi elitis, politis, bahkan cenderung hedonis. Pemikiran-pemikiran khas HMI dalam merespon isu-isu keumatan, keIslaman, dan kebangsaan boleh dikata sering absen mewarnai publik. Pada sisi kuantitatif, komisariat yang merupakan lumbung kader sekaligus ujung tombak perjuangan organisasi, terutama di kampus-kampus besar di wilayah Jawa secara populatif mengalami penurunan serius.

Permasalahan mengenai Kemunduran HMI ini sendiri semakin nyata tatkala munculnya buku yang berjudul “44 Indikator Kemunduran HMI” yang ditulis oleh Sejarawan HMI kanda Prof.Agus Salim Sitompul. Buku ini memaparkan kegelisahan beliau yang muncul dari perjalanan yang beliau lakukan dalam mengisi Latihan Kader HMI di seluruh pelosok Nusantara.

Semakin sedikitnya minat mahasiswa untuk berkecimpung dalam HMI menjadi sorotan serius. Dalam suatu kesempatan diskusi Kanda Agus Salim Sitompul berkata dengan keras, “Kalau tidak ada mahasiswa lagi yang tertarik masuk HMI , bagaimana organisasi ini akan berjalan?”. HMI sudah tidak memperhatikan “Student Need” dan “Student Interest” sehingga mahasiswa menjadi tidak tertarik terhadap HMI bahkan lebih memilih organisasi lainnya untuk menempa dirinya. Buku yang beliau tulis adalah suatu kritikan krusial penuh dengan harapan bahwa permasalahan yang ada harus segeraa dicarikan jalan keluarnya.

Fenomena yang terjadi di lapangan membuat diri saya secara pribadi sangat tertantang untuk mencoba mencari solusi-solusi untuk diaplikasikan dalam kehidupan ber-HMI di kalangan mahasiswa dengan harapan mampu mengembalikan kejayaan organisasi di masa yang akan datang.  Dalam tulisan ini saya mencoba menuliskan pemikiran sederhana berdasarkan apa yang pernah saya amati dan alami. Meskipun masih bersifat dangkal setidaknya tidak menjadi sampah dalam pikiran.

Untuk itu penulis mencoba menyelami kembali makna yang tercantum dalam untaian kalimat tekstual yang tercantum dalam naskah Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) yang merupakan falsafah mendasar yang menjadi landasan utama dalam agenda perjuangan organisasi HMI tercinta. Hasil pendalaman tersebut mengerucut pada inti NDP itu sendiri yaitu beriman , berilmu dan beramal.

Penulispun mencoba mensinkronkan antara inti NDP tersebut dengan permasalahan yang terjadi di lapangan terkait kemunduran HMI seperti yang dijelaskan Kanda Prof.Agus Salim Sitompul dalam bukunya. Sebenarnya inti dari NDP tersebut merupakan sebuah jawaban dan solusi yang perlu dijabarkan secara kongkret untuk mengembalikan kejayaan HMI hari ini. Sesungguhnya kita sebagai kader HMI sendiri telah melupakan mengenai inti dari Nilai-Nilai Dasar Perjuangan itu sendiri atau bahkan tidak tahu sama sekali. Sehingga perlu sebuah kesadaran untuk mengarahkan perjuangan kita kembali pada Nilai-Nilai Dasar yang menjadi semangat utama kita melakukan perjuangan untuk melahirkan perubahan lebih baik untuk peradaban. Semoga dialektika yang penulis goreskan dalam makalah ini dapat menggugah penulis secara pribadi maupun semua kader HMI di seluruh Nusantara untuk melahirkan gebrakan baru dalam menjawab tantangan zaman ke depan.

Nilai-Nilai Dasar Perjuangan; Tinjauan Historis dan Pemahaman Fungsi. 

Jika mencoba melihat sejarah lahirnya NDP , ada baiknya kita mencoba membaca dan mencermati tulisan Cak Nur mengenai latar belakang perumusan NDP HMI. Pasca kunjungan beliau ke Amerika , perjalanan kembali dilanjutkan ke Timur Tengah. Perjalanan ini membawa Cak Nur bertemu dengan banyak Tokoh dan Pemikir Islam. Dari banyaknya diskusi panjang selama perjalanan inilah setelah pulang ke tanah air lahirlah keinginan untuk menulis nilai-nilai dasar Islam yang pada akhirnya kita kenal dengan nama NDP.

Pada dasarnya , Cak Nur merumuskan NDP dilandasi oleh berbagai macam faktor (sebagaimana yang dijelaskan oleh Kanda Prof.Agus Salim Sitompul dalam buku NDP). Pada saat itu di Indonesia pemahaman mengenai keislaman masih perlu ditingkatkan. Sehingga dirasakan periu untuk memiliki pedoman dan pegangan sehingga dapat lebih mudah untuk menghayati nilai-nilai Islam yang ada.

Selain itu, HMI pada saaat itu belum memiliki sebuah buku mengenai keislaman yang dapat dijadikan buku pegangan bagi kader-kader HMI melakukan perjuangan sebagaimana layaknya organisasi perjuangan. Keislaman masih kurang mendapatkan tempat dalam proses pengkaderan. Dengan demikian untuk mengatasi kekurangan tersebut maka  Nurcholish Madjid berinisiatif untuk merumuskan NDP.

Selanjutnya, NDP dirumuskan untuk memberi panduan bagi kader HMI untuk memahami Islam dengan baik.  Kemudian  NDP dirumuskan agar HMI memiliki suatu ideology yang dapat bertahan dalam jangka waktu yang cukup lama. Hal ini mengingat ideologi serta doktrin perjuangan yang pernah ada sebelum NDP  hanya dapat bertahan selama tiga tahun.

Pada dasarnya NDP memiliki posisi dan fungsi strategis dalam HMI. NDP berfungsi sebagai pedoman dan pegangan bagi setiap anggota serta panduan agar mampu memahami Islam dengan baik. Sepeti halnya yang disampaikan oleh Nurcholis Madjid dalam kata pengantar PB HMI pada naskah awal NDP bahwa dua syarat utama suksesnya perjaunagan ialah

  1. Keteguhan iman atau keyakinan dasar, yaitu idealisme yang kuat yang berarti harus memahami dasar perjuangan itu.
  2. Ketepatan penelaahan kepada medan perjuangan guna dapat menetapkan langkah-langkah yang harus ditempuh, berupa program perjuangan atau kerja , yaitu ilmu yang luas.

Perjuangan adalah suatu kesungguhan yang disertai usaha teratur, tertib dan berencana untuk mengubah suatu kondisi yang buruk menjadi kondisi yang lebih baik atau yang tidak sesuai dengan tatanan yang lebih baik dari sebelumnya. Perjuangan pada hakikatnya adalah melakukan suatu reformasi, perombakan, perbaikan dan penyempurnaan.

NDP berfungsi untuk tercapainya perjuangan tersebut. Jika tadi dijelaskan bahwa keyakinan iman dan keyakinan dasar menjadi salah satu kunci sukses, NDP adalah suatu pedoman untuk meneguhkan iman dan keyakinan kepada dasar perjuangan yaitu Islam. Hal berikutnya juga dipaparkan bahwa perlunya ketepatan dalam penelaahan medan perjuangan. Ketika kita memahami seperti apa medan perjuangan kita maka kita dapat menentukan langkah-langkah yang harus ditempuh. Representasi langkah-langkah tersebut adalah program kerja yang menjadi taktik untuk mencapai tujuan perjuangan. NDP berfungsi sebagai pedoman dan penuntun merumuskan langkah-langkah yang dimanifestasikan dalam pelaksanaan program-program kerja HMI di setiap tingkatan kepengurusan. NDP juga berfungsi menerjemahkan kontekstualisasi nilai-nilai abstrak menjadi lebih nyata untuk memenuhi kebutuhan masyarakat kontemporer. Sehingga jika kita tarik suatu kesimpulan bahwa NDP adalah suatu mekanisme yang dapat membantu suksesnya perjuangan.

Nilai-Nilai Dasar Perjuangan; Sebuah Intisari untuk Aplikasi.

NDP terdiri dari beberapa bagian seperti “Dasar dasar kepercayaan” , “Pengertian dasar tentang kemanusiaan” , “Kemerdekaan manusia dan keharusan universal” , “Ketuhanan Yang Maha Esa dan Perikemanusiaan” , “Individu dan masyarakat” , Keadilan sosial dan keadilan ekonomi” , Kemanusiaan dan ilmu pengetahuan” .

Tentunya jika kita simpulkan dari penjabaran Nilai-nilai Dasar Perjuangan yang telah dirumuskan tersebut sesungguhnya intinya sangatlah mudah. Inti dari Nilai-nilai Dasar Perjuangan ini tidak lain adalah “Beriman, Berilmu dan Beramal”. Hidup beriman tentu saja merupakan sesuatu yang bersifat personal. Akan tetapi setiap manusia harus menyadari bahwa mereka harus punya nilai dan iman adalah sandaran nilai tersebut. Hidup yang benar dimulai dengan iman atau percaya kepada Tuhan. Beriman tentunya akan melahirkan ketaqwaan dimana adanya keinginan untuk selalu mendekatkan diri serta kecintaan kepada Tuhan. Iman ini sendiri tidak akan berarti apa-apa bagi manusia ketika tidak disertai dengan usaha dan kegiatan yang sungguh-sungguh untuk menegakkan kehidupan yang benar dalam peradaban dan budaya. Keimanan dan ketaqwaan itu harus dipelihara. Cara memeliharanya adalah dengan melakukan ibadah dan pengabdian kepada Tuhan. Sehingga nilai-nilai yang telah kita percaya akan semakin kuat dan memiliki makna yang berarti.Ibadah ini sendiri akan mendidik individu agar tetap berpegang teguh pada kebenaran serta memiliki hati nurani yang bersih. Sehingga ketika kita telah memiliki suatu nilai dan kepercayaan terhadap sesuatu yang benar serta melakukan suatu upaya yang sungguh-sungguh untuk terus meningkatakan keminanan tersebut. Maka perjuangan yang kita lakukan akan sangat mudah untuk dicapai dan diwujudkan.

Inti kedua yaitu berilmu. Sangat jelas di dalam Al- Qur’an mengenai fungsi dan manfaat dar ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia. Dalam Al Qur’an surat Al Isra ayat 36 dipaparkan  , “ Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, pengelihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabnya”.

Tentunya ayat tersebut merupakan suatu instruksi yang sangat jelas bahwa kita harus Berilmu. Dengan berilmu maka kita akan tahu apa mengenai hal-hal yang kita lakukan. Apakah hal tersebut berhubungan dengan hubungan manusia dengan Tuhan atau hubungan manusia dengan manusia serta alam dan lingkungan disekitarnya. Dengan ilmu manusia dapat mengetahui dampak apa yang akan terjadi ketika kita melakukan suatu perbuatan. Apakah akan memberikan banyak manfaat atau malah sebaliknya. Tentunya dengan ilmu pula kita bisa menggunakannya untuk melakukan perubahan didalam mewujudkan tujuan perjuangan yang kita cita-citakan bersama. Berilmu sangatlah penting sebagaimana yang dijelaskan didalam Al Qur’an bahwa jika kita berilmu pengetahuan maka akan diangkat derajat kita oleh Allah SWT.

Pada dasarnya organisasi perjuangan merupakan organisasi yang sangatlah mulia. Kita dalam berorganisasi dituntut untuk berada di jalan yang benar. Kemudian utnuk terus berada pada arah yang benar tersebut maka dalam bertindak harus selalu menggunakan ilmu pengetahuan. Kerja manusia tanpa ilmu pengetahuan tidak akan membawa kita mewujudkan tujuan perjuangan. Hal ini hanya akan membawa pada kehancuran peradaban manusia.

Selanjutnya inti dari nilai-nilai dasar perjuangan ini adalah Beramal.  Tidaklah cukup jika kita hanya berbicara pada tataran konsep tanpa aplikasi atau tindakan nyata di lapangan. Beramal adalah salah satu bukti kongkret bagi suatu perjuangan. Apa yang kita rumuskan melalui konsep-konsep atau pemikiran-pemikran brilian akan lebih berarti dan memberikan banyak faedah bagi masyarakat ketika direalisasikan dalam bentuk tindakan yang nyata. Beramal tentunya tidak kita artikan dalam makna sempit seperti amalan-amalan wajib atau sunnah yang biasa kita lakukan. Beramal sangatlah luas. Dalam melakukan berjuangan , tindakan yang kita lakukan haruslah diniatkan untuk beramal dan beribadah sehingga mendapatkan ridho dari Allah SWT.  Beramal bisa kita artikan sebagai kerja kemanusiaan yang secara esensial menyangkut kepentingan manusia secara menyeluruh baik dalam ukuran ruang dan waktu.

Hal ini bisa dicontohkan seperti menegakkan keadilan di dalam masyarakat sehingga setiap orang akan memperoleh harga diri dan martabatnya sebagai manusia. Dalam perjuangan tentunya kesejahteraan masyarakat adalah hal utama yang ingin kita capai. Ketika kita beramal melalui tindakan nyata maka harus mampu mengarahkan manusia kepada nilai-nilai yang baik, lebih insane dan lebih maju (Amar Ma’ruf) apapun tindakan nyata yang kita lakukan. Selain itu di dalam beramal shaleh tentunya pembelaan terhadap kaum yang lemah , kaum tertindas dan kaum miskin serta usaha-usaha untuk meningkatkan taraf hidup mereka menjadi contoh lainnya didalam beramal.

Dengan demikian sangatlah jelas, perjuangan akan mudah terwujud jika kita benar-benar mengaplikasikan dengan sungguh-sungguh apa yang telah digariskan didalam Nilai-nilai dasar perjuangan. Apakah itu dalam proses pengkaderan sehingga menghasilkan generasi muda yang tangguh dan peduli terhadap dinamika sosial kemasyarakatan serta memiliki intelektualitas tinggi berhati nurani. Atau tindakan nyata yang lebih aplikatif dan memberikan faedah bagi masyarakat Indonesia. Pemenuhan atas nilai-nilai dasar ini dalam semangat perjuangan HMI akan mewujudkan cita-cita besar kita. Tentunya dengan komitmen yang kuat serta usaha keras tanpa mengenal lelah dan selalu yakin usaha sampai.

Kemunduran HMI, “Suatu Kritik untuk Perbaikan”.

Ketika kita berbicara mengenai sejarah HMI tentunya kita akan sangat bangga meilhat kejayaan serta konstribusi organisasi yang kita cintai ini bagi bangsa Indonesia. HMI selalu aktif dan mengambil peranan strategis disetiap dinamika bangsa yang terjadi dalam setengah abad kebelakang. Sebagai organisasi pergerakan mahasiswa yang tertua, HMI telah melahirkan banyak pemimpin-pemimpin bangsa Indonesia.

Akan tetapi seiring berjalannya waktu HMI mengalami kemunduran yang dapat mengancam eksistensi organisasi dikemudian hari.  Hal ini tercantum dalam buku yang ditulis oleh Kanda Prof.Agus Salim Sitompul yang berjudul “44 Indikator Kemunduran HMI”. Sebuah buku yang memuat mengenai kritik terhadap HMI serta indikator-indikator kemundurannya. Harapan dari penulis buku ini sendiri tidak lain adalah agar seluruh kader HMI sadar bahwa ada masalah besar yang mengancam organisasi tercinta ini. Namun dalam suatu kesempatan berdiskusi dengan saya, beliau mengatakan bahwa belum ada tindakan nyata untuk menyelesaikan permasalahan krusial yang menyebabkan kemunduran HMI tersebut.

Ada beberapa hal yang menjadi indikator kemunduran HMI dewasa ini. Saya pribadi mencoba merujuk pada buku yang dikarang oleh Prof.Agus Salim Sitompul dan mencoba mengambil intisari penting dalam tulisan beliau. Pertama, jumlah mahasiswa baru yang masuk HMI sangat menurun drastis. Sebagai organisasi perjuangan ujung tombak perjuangan itu sendiri adalah kader-kadernya. Bagaimana perjuangan akan dilakukan jika kader-kader yang diharapkan menjadi garda depan perjuangan semakin hari semakin berkurang. Dalam catatan sejarah, pada kurun 1966-1967 dalam satu kali Maperca satu angkatan diikuti oleh 7500 orang. Dan dari angka tersebut setengah plus satu akan masuk HMI. Jadi kita bisa membayangkan bahwa betapa melimpahnya ujung tombak yang akan digunakan untuk melaksanakan perjuangan. Namun sekarang, dalam satu kali LK 1 , sangat sulit sekali untuk mencapai angka 20 peserta. Kalaupun mencapai angka tersebut, sringkali yang aktif dan memiliki komitmen pasca LK hanya berkisar setengah dari angka tersebut. Dan ini terjadi hampir diseluruh pelosok nusantara.

Pada dasarnya eksistensi suatu organisasi sangat ditentukan dari keberadaan anggota sebagai penggerak, pengemudi, penerus dari kehidupan organisasi. Dan kondisi yang terjadi di lapangan khususnya mengenai menurun drastisnya jumlah mahasiswa yang masuk HMI permasalahan bersama yang harus menjadi perhatian bersama demi berlangsungnya organisasi di masa yang akan datang.

Kedua, saat ini HMI semakin jauh dari mahasiswa. Hal ini disebabkan karena HMI kurang mampu menyerap dan mengakomodir aspirasi mahasiswa yang berkembang di kampus. Apa yang menjadi keinginan dan kebutuhan mahasiswa seharusnya bisa dipenuhi oleh HMI. Namun fakta di lapangan tidaklah demikian. HMI kurang mampu menawarkan kegiatan atau program kepada mahasiswa yang jika kegiatan tersebut tidak diikuti mereka akan merasa rugi. Kondisi ini menyebabkan HMI kurang diminati dikalangan mahasiswa. Tentunya untuk mengembalikan kembali kejayaan HMI maka kita harus mendekatkan HMI kembali pada mahasiswa.

Ketiga, sebagai organisasi yang berlandaskan Islam, seharusnya HMI kader-kader HMI memiliki pengetahuan pemahaman serta penghayatan ajaran agama Islam yang baik. Akan tetapi hal ini tidak demikian di lapangan. Hampir tidak ada perbedaan dalam hal keislaman dari orang sebelum dan sesudah masuk HMI khusunya di Universitas atau Institut umum (bukan IAIN dan STAIN). Minimnya pembinaan maupun program serta implementasinya mengenai keislaman di HMI menjadi faktor utama yang menyebabkan kondisi ini terjadi. Menjadi lelucon yang sangat lucu jika kita, sebuah organisasi yang mengatasnamakan Islam sebagai landasan utamanya tidak berbicara serta melakukan kajian-kajian keislaman dalam perjuangannya.

Keempat, kurang berfunginya lembaga kekaryaan yang ada di HMI. Sebenarnya HMI merupakan organisasi mahasiswa yang sangat lengkap. Apa yang diinginkan mahasiswa semuanya sebenarnya ada di HMI. Seharusnya lembaga-lembaga ini populis di kalangan masyarakat dan mahasiswa terutama dengan hasil-hasil karyanya. Apakah itu dalam bentuk media, pemberdayaan masyarakat, dakwah dan teknologi.

Kelima, tradisi intelektual HMI yang memudar. Sejatinya kader-kader HMI adalah pewaris tradisi intelektual. Namun dewasa ini kegiatan-kegiatan keilmuan di HMI sangat minim sekali. Padahal dahulunya tradisi intelektual HMI merupakan salah satu andalan yang menjadi nilai lebih dan nilai jual HMI serta kader-kadernya ditengah masyarakat dan mahasiswa. Hal ini menyebabkan mahasiswa cerdas dan pintar jarang mau masuk HMI karena mereka melihat tradisi intelektual di HMI tidak mendukung kebutuhannya sehingga mereka memutuskan untuk aktif di organisasi lain yang dapat mendukung pengembangan intelektual mereka.

Keenam, HMI terlalu banyak retorika daripada action. Padahal yang dibutuhkan di lapangan saat ini adalah aksi nyata yang lebih kongkret. HMI sangat luar biasa dalam wacana. Namun masih sangat lemah dalam implementasi wacana ataupun gagasan yang telah dicetuskan. Kondisi ini menyebabkan apa yang telah dikonsep seringkali diambil posisinya oleh organisai lain.

Ketujuh, HMI banyak terlibat dalam kegiatan politik, sehingga banyak menyedot perhatian, tenaga, pikiran bahkan dana. Hal ini menyebabkan kegiatan-kegiatan lain seperti pengkaderan, kajian keilmuan dan keislaman terlupakan. Sehingga pandangan orang awam terhadap HMI adalah identik dengan politik. Padahal mahasiswa dewasa ini sering terlihat skeptic dan apolitis. Sehingga sangat penting untuk memperhatikan hal-hal lain di luar politik. Hal ini tidak lain adalah untuk menarik minat mahasiswa untuk bergabung bersama keluarga besar HMI.

Kedelapan, daya kritis aktivis HMI semakin menurun. Kepekaan dan kepedulian terhadap masyarakat serta dinamika sosial yang ada semakin menipis. Meskipun pada dasarnya permasalahan ini merupakan permasalahan umum yang dialami hampir seluruh mahasiswa, namun seharusnya HMI tetap menjadi tradisi kritis dalam perjuangannya. Mahasiswa pada hakikatnya memiliki fungsi penyeimbang di bangsa ini. Dan fungsi penyeimbang ini akan berjalan ketika daya kritis mahasiswa terus berputar. Ketika hanya diam ketika melihat ketidakbenaran dan ketidakadilan , maka disinilah HMI harus tampil dengan sikap kritis dan idealismenya.

Kesembilan, HMI mengalami penurunan dalam gerakan mahasiswa di tingakt regional maupun nasional. Hal ini disebabkan mulai minimnya ide-ide, serta inisiatif yang dipelopori oleh HMI. Hal ini semakin diperparah dengan minimnya distribusi kader-kader HMI dalam posisi strategis di lembaga-lembaga kemahasiswaan seperti BEM, LEM, HMJ , Senat mahasiswa, MPM dsb. Distribusi kader-kader diposisi tersebut mulai diambil alih oleh organisasi lain yang menyebabkan nama mereka lebih popular dan mempermudah proses pengkaderan di lingkungan kampus. Untuk itu, HMI harus kembali mengambil peranan strategis dalam gerkan-gerakan mahasiswa di Indonesia.

Pada dasarnya masih banyak lagi indikator kemunduran HMI yang dijelaskan dalam buku karangan Prof.Agus Salim Sitompul. Namun saya pribadi mencoba mensintesakannya dalam sembilan poin yang saya anggap sangat penting dan sangat mendesak untuk segera diselesaikan. Kritik mengenai kemunduran HMI ini janganlah kita jadikan sebagai angin lalu belaka, atau membuat kita seolah “kebakaran jenggot”. Kita harus bersatu dan mulai memikirkan bagaimana untuk menyelesaikan permasalahan yang menyebabkan kemunduran HMI dewasa ini ditengan tantangan zaman yang semakin tidak bersahabat dengan kehidupan gerakan mahasiswa.

Nilai-Nilai Dasar Perjuangan Sebagai Suatu Jawaban Alternatif.

Jika penulis pribadi mencoba meruntutkan serta menganalisis mengenai indikator kemunduran HMI tersebut maka akan sampai pada suatu kesimpulan. Bahwa arah perjalanan perjuangan kita sudah mulai melupakan Nilai-Nilai Dasar Perjuangan yang seharusnya menjadi pedoman sebagaimana yang dijelaskan Nurcholis Madjid mengenai latar belakang munculnya NDP itu sendiri. Bagaimana kita mulai melupakan hal-hal fundamental seperti kajian keislaman, meneruskan tradisi keintelektualan, daya kritis, kepedulian serta tindakan nyata sebagai manifestasi perjuangan yang sesungguhnya.

Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah Subhanahu wata’ala merupakan tujuan dari perjuangan HMI. Tentunya untuk mencapai tujuan perjuangan tersebut, maka nilai-nilai dasar perjuangan inilah yang harus dijadikan pedoman.

Beriman, Berilmu dan Beramal adalah jawaban pasti untuk kemunduran HMI.  Mengapa keislaman kurang menjadi perhatian dalam HMI padahal Islam adalah azas organisasi yang menjadi nafas dalam setiap tindakan perjuangan. Mengapa tradisi keintelektualan kita yang mulai menurun , daya kritis yang semakin tumpul. Mengapa aksi-aksi nyata kita tidak terlihat dilapangan. Mengapa wacana-wacana kita tidak teralisasikan menjadi suatu tindakan. Mengapa peranan kita mulai rapuh dan tergantikan oleh orang lain. Hal ini tidak lain saya simpulkan karena kita sudah mulai melupakan Nilai-Nilai Dasar Perjuangan yang telah digariskan oleh para pendahulu kita.

Ketika kita kembali pada Nilai-Nilai Dasar Perjuangan maka saya yakin bahwa kejayaan HMI akan hadir kembali dan bahkan bisa lebih besar dari pada sebelumnya. Poin Beriman , akan menjadi jawaban terhadap kritik mengenai pemahaman dan penghayatan kita terhadap keislaman. Bukan sekedar iman dalam lisan maupun di dalam hati. Namun keimanan yang menghasilkan niat ibadah dalam segala tindakan , perjuangan , pemikiran hingga implementasi pergerakan untuk kesejahteraan masyarakat dan kedaulatan bangsa.

Berilmu , akan mengembalikan tradisi keintelektualan kita sebagai kader-kader muda yang progresif dan revolusioner. Bagaimana kita memulai untuk menggerakkan kembali kesadaran membaca dan menulis yang akan menjadikan pemikiran-pemikiran HMI terdengar di seluruh pelosok nusantara. Berilmu, tidak hanya akan membawa kader-kader HMI menjadi ilmuwan dibidang perkuliahannya. Melainkan melahirkan cendikiawan muda abad millennium yang mampu membawa perubahan besar dalam perjalanan bangsa ini kedepan.

Beramal, akan menjadi realisasi atas segala konsep, pemikiran, wacana, dialektika serta retorika yang selama ini dilakukan. Tidak hanya sekedar berteriak lantang menuntut perbaikan dan perubahan. Namun HMI juga akan mampu memberikan karya nyata untuk melakukan perubahan tanpa harus menunggu rezim yang tak kunjung mendengarkan.

Beriman, Berilmu dan Beramal jika diimpelementasikan kembali dalam setiap nafas perjuangan HMI tentunya akan menaikkan citra HMI dimata masyarakat dan mahasiswa. Mahasiswa akan kembali mencari HMI untuk bergabung dalm merapatkan barisan perjuangan. HMI akan kembali menjadi kawah candradimuka yang melahirkan pemimpin-pemimpin besar masa depan Indonesia.

Beriman, Berilmu dan Beramal jika diimplementasikan akan memenuhi transformasi keinginan dan kebutuhan mahasiswa yang selama ini mulai kita lupakan. Hal inilah yang menyebabkan mahasiswa enggan untuk bergabung bersama HMI. Sikap apolitis para mahasiswa perlahan kita kurangi dengan pendekatan-pendekatan intelektual dan kekeluargaaan. Sehingga perlahan kesadaran untuk berpartisipasi dalam perjuangan akan mulai tergugah. Dan pada akhirnya, tujuan kita untuk “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah Subhanahu wata’ala” bukanlah mimpi utopis belaka. Namun akan menjadi kenyataan yang akan kita raih bersama.

Penutup

Dipenghujung abad ke-20 ini , masyarakat dunia dihadapkan pada perubahan-perubahan multi dimensi begitu cepat. Ini merupakan tantangan zaman yang mau tidak mau harus kita persiapkan menyambut kedatangannya. Jika tidak maka kita akan tergilas dan hilang ditelan kemajuan zaman.

HMI harus kembali tampil kedepan. Sebagai organisasi mahasiswa Islam tertua dan terbesar di nusantara kita harus menjadi garda depan dalam membawa bangsa Indonesia kearah yang lebih baik. Menurunnya eksistensi HMI baik secara kualitas dan kuantitas harus menjadi perhatian serius bagi setiap elemen yang ada di dalamnya. Jika tidak disegerakan dilakukan upaya-upaya untuk menyelesaikan permasalahan yang akan membahayakan kelangsungan organisasi dikemudian hari.

Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) merupakan landasan dasar dalam merumuskan langkah-langkah perjuangan. Kemunduran yang ada terjadi karena nilai-nilai dasar tersebut tidak lagi melandasi pergerakan yang kita lakukan. Sehingga, kembali ke NDP adalah salah satu strategi alternatif untuk menjawab permasalahan yang ada terkait kemunduran HMI dewasa ini.

Dengan Berman, Berilmu dan Beramal maka akan sangatlah mudah untuk mewujudkan “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah Subhanahu wata’ala”. Yakin Usaha Sampai.

References

Komaruddin Muhammad, Ade & Fauzi Muchriji (Penyunting) , HMI Menjawab Tantangan Zaman , (Jakarta, Gunung Kelabu, 1990).

Latif, Yudi , Intelegensia Muslim dan Kuasa, Genealogi Intelegensia Muslim Indonesia Abad ke-20, (Bandung, Mizan , 2005).

Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam , Nilai-Nilai dasar Perjuangan (Jakarta: Penerbit PB HMI, 1971).

Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam, Nilai Identitas Kader (Jakarta : Penerbit PB HMI, 1986).

Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam, Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) (Jakarta: Penerbit PB HMI, 2009).

Ranuwihardjo, A.Dahlan, Menuju Pejuang Paripurna Aspek Ideologi dari Islam Menuju Terbinanya Insan Pejuang Paripurna Leadership Strategi dan Taktik dalam Perjuangan Politik (Editor, Anjas Taher), (Ternate:Penerbit KAHMI Wilayah Maluku Utara, 2000).

Sitompul, Agussalim, Sejarah Perjuangan HMI (1947-1975), (Surabaya:Penerbit Bina Ilmu, 1976).

Sitompul, Agussalim , HMI dalam Pandangan Seorang Pendeta, Antara Impian dan Kenyataan, Koreksi terhadap Victor Tanja tentang : Himpunan Mahasiswa Islam, Sejarah dan Kedudukannya di tengah Gerakan-Gerakan Muslim Pembaharu di Indonesia, (Gunung Agung, Jakarta, 1982).

Sitompul, Agussalim (Editor), HMI Mengayuh di Antara Cita dan Kritik (Yogyakarta: Penerbit Aditya Media, 1997).

Sitompul, Agussalim, 44 Indikator Kemunduran HMI , Suatu Kritik dan Koreksi untuk Kebangkitan Kembali HMI (50 tahun pertama HMI 1947-1997) , (Jakarta, Misaka Galiza, 2005).

Sitompul, Agussalim, Pemikiran HMI dan Relevansinya dengan Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia (Jakarta, Misaka Galiza, 2008).

Sitompul, Agussalim,  Histiografi HMI 1947-1993 (Jakarta, Miska Galiza, 2008).

Sitompul, Agussalim, Citra HMI (Jakarta, Miska Galiza, 2008).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s