Arsitek Kawasan Kumuh

Posted: November 18, 2007 in Penataan Ruang
Tags: , , ,

Andryan Wikrawardana

Kota, sebuah kata yang sudah tidak asing lagi untuk kita ucapkan. Namun masih sangat sulit untuk mendefinisikan dan memahami makna kota sebenarnya. Kota, merupakan integrasi manusia yang membentuk komunitas didalamnya dengan berbagai aktivitas kehidupan. Apakah itu industri, perdagangan, pendidikan, pemerintahan, jasa, semuanya adalah elemen penyusun yang membuat integritas manusia itu kita sebut kota. Dalam gambaran masyarakat awam kota dengan fungsi utamanya sebagai pusat pelayanan memiliki daya tarik tersendiri. Ketersediaan beragam fasilitas dan infrastruktur pelayanan publik seolah memanjakan masyarakat dalam berbagai aktivitas yang dilakukan. Pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi pondasi dalam setiap pembangunan yang ada. Kenyamanan dan keterpenuhan terhadap rasa aman menjadi nilai lebih kota. Tentunya untuk menciptakan susasana yang kondusif seperti itu perlu adanya aturan-aturan yang menjadi landasan kehidupan masyarakatnya. Kesadaran masyarakat dalam menerapkan aturan tersebut merupakan faktor utama terciptanya image kota. Meskipun demikian, setiap Negara memaknai kota dengan pemahaman yang berbeda-beda. Ada yang memahami berdasarkan jumlah penduduk, ada pula yang berdasarkan pola aktivitas manusia yang ada didalamnya, ada pula yang mendefenisikan kota berdasarkan fungsi kota tersebut. Para ahlipun banyak yang mendefinisikan tentang kota bahkan secara detail beserta pola-pola perkembangannya yang ilmiah. Terlepas dari hal-hal tersebut, orang awam khususnya di Negara sedang berkembang memiliki defenisi tersendiri tentang kota. Mereka memahami kota sebagai suatu tempat yang memiliki gedung bertingkat, jalan yang ramai ,pusat perbelanjaan yang besar dan aktivitas manusianya lebih kepada sektor non agraris.

Namun, kota di Negara sedang berkembang seringkali tidak seperti yang kita harapkan. Urbanisasi yang terjadi menimbulkan dampak negatif bagi kehidupan di kota. Prilaku masyarakat yang seringkali mengabaikan aturan dan ketidak tegasan pemerintah dalam menerapkan peraturan menciptakan kondisi permasalahan yang tidak pernah menemukan solusi. Indonesia sebagai salah satu Negara yang berkembang tak lepas dari ragamnya permasalahan tentang kota. Untuk kasus yang saya bahas adalah mengenai kota Yogyakarta. Seperti halnya kota-kota pada umumnya, Yogyakarta memiliki permasalahan yang sudah umum ada. Namun ada keunikan tersendiri yang menjadi alas an mengapa saya mengambil tema ini.  Kota Yogyakarta, merupakan salah satu bagian dari wilayah administratif Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Dunia mengenal Yogyakarta sebagai pusat kebudayaan dan salah satu objek wisata yang menjadi pesona di Asia. Keramah tamahan prilaku dunia timur tercermin jelas dalam prilaku dan keseharian masyarakat Yogyakarta. Objek wisata yang khas, serta keunikan khasanah budaya yang ada menarik perhatian wisatawan domestik maupun luar negeri untuk berwisata di Yogyakarta. Ramainya Kota oleh arus wisatawan memungkinkan bergeraknya kegiatan perekonomian di Yogyakarta. Segala sesuatu yang berbau Yogyakarta dan memiliki daya tarik bagi wisatawan  dimanfaatkan untuk memperoleh keuntungan. Kehadiran para penjual Batik, souvenir, keris, makanan khas dan cinderamata lainnya yang bersifat formal maupun pedagang kaki lima menjadi bukti nyata bahwa pariwisata yang ada bisa menngerakkan roda perekonomian di Yogyakarta.

Selain wisata, Yogyakarta terkenal sebagai salah satu pusat pendidikan di Indonesia. Banyaknya universitas negri maupun swasta dengan berbagai mutu mendidikan yang menjadi nilai jual menyebabkan Yogyakarta menjadi tujuan untuk menimba ilmu. Bahkan sering terdengar guyonan yang mengatakan bahwa Yogyakarta adalah miniatur Indonesia. Bukan ungkapan yang berlebihan. Namun lebih dikarenakan mahasiswa yang berdatangan ke Yogyakarta sangat beragam. Meskipun belum diadakan penelitian secara detail, dari Sabang sampai Merauke menjadi satu berkumpul untuk menimba ilmu di Yogyakarta. Selain dari dalam dapat pula kita jumpai mahasiswa dari luar negeri  di Yogyakarta. Hal ini membuktikan bahwa Kota Yogyakarta memiliki nilai lebih penyediaan mutu pendidikan. Secara fungsional cakupan pelayanannya tidak hanya untuk skala domestik namun telah go internasional. Kondisi ini mempengaruhi kehidupan perkonomian di Yogyakarta. Migrasi yang dilakukan mahasiswa setiap tahun ajaran baru dibuka menjadi salah satu faktor utama. Jumlah penduduk yang bertambah dari penduduk asli dan pendatang menciptakan aktivitas ekonomi dan penyediaan jasa yang meningkat. Pasar begitu memahami pola kehidupan mahasiswa yang penuh kebutuhan dalam masa-masa perantauan mereka di Yogyakarta. Kehadiran pusat perbelanjaan dan tempat-tempat hiburan merupakan salah satu peluang untuk pasar meraup keuntungan. Peluang ini tidak hanya dilihat oleh sektor formal. Bahkan sektor informalpun berusaha memanfaatkan situasi ini untuk mencari nafkah. Konsumen yang sebagian besar adalah para mahasiswa menjadikan suatu pembuktian bahwa, pendidikan yang ada di Yogyakarta telah membuka hadirnya peluang kerja di Kota ini.

Dua faktor yang telah saya jelaskan diatas menjadi daya tarik bagi orang di luar kota Yogyakarta untuk bermigrasi. Harapan untuk meperoleh penghidupan yang layak menjadi alasan kuat terjadinya urbanisasi tesebut. Seringkali perpindahan ini hanya disertai modal nekat dan keterbatasan skill. Fakta dilapangan membuktikan kebanyakan para migran luar kota hanya mampu masuk di sektor informal perkotaan seperti buruh kasar, pedagang kaki lima, pembantu rumah tangga, pemulung bahkan tak sedikit yang menjadi gelandangan ataupun pengemis. Untuk skala kecil terutama sektor informal, mereka bisa menghidupi diri mereka sendiri. Namun, khusus untuk pemulung, pengemis dan gelandangan sangat sulit bagi mereka untuk bertahan. Kehadiran beberapa contoh kaum migran seperti ini seringkali mengganggu kehidupan perkotaan. Sebagai contoh, pedagang kaki lima yang memanfaatkan badan jalan milik unum untuk berjualan dan gelandangan yang bertebaran di pusat-pusat kota melahirkan kesan kumuh di kota. Selain itu, penggunaan fasilitas umum tidak sesuai fungsinya menyebabkan kenyamanan publik menjadi terganggu. Dan yang seringkali menimbulkan masalah bagi pemerintah adalah penyediaan tempat tinggal bagi kalangan migran ini. Keterbatasan pemerintah untuk menyediakan lahan membuat mereka menggunakan lahan-lahan yang seharusnya bukan untuk pemukiman. Hampir sebagian besar kaum migran menggunakan bantaran sungai yang diperuntukkan resapan air untuk mendirikan bangunan non permanen sebagai rumah mereka. Sampah dan limbah rumah tangga yang mereka hasilkan mencemari tanah dan ekosistem sungai. Dan, ketika musim hujan tiba daerah bantaran sungai yang sebenarnya untuk daerah aliran air ketika luapan air membesar dihantam banjir. Sehingga menghanyutkan rumah-rumah non permanen kaum migran yang bermukim disana. Untuk di Indonesia terutama di Jakarta sering terjadi fenomena seperti ini. Yogyakarta pada tahun 1990 juga mengalami peristiwa serupa. Namun, kejadian yang terus berulang tidak pernah menyadarkan Pemerintah untuk menerapkan aturan dengan tegas. Seringkali penerapan aturan harus berhadapan dengan konflik sosial yang timbul apabila aturan tersebut diterapkan. Jika saya mengamati fenomena seperti ini, tidak lebih dikarenakan kurangnya langkah-langkah preventif. Seperti halnya tentang undang-undang tata ruang yang muncul ke permukaaan setelah polemik permasalahan tata ruang hamper mencapai klimaks. Ketika bantaran sungai masih di huni oleh beberapa orang pemerintah seolah tak peduli dan menganggap hal itu biasa. Namun, ketika daerah tersebut berubah menjadi suatu pemukiman kumuh baru timbul kesadaran untuk mengaturnya. Hal ini menyebabkan pertimbangan mengenai dampak sosial penanggulangan masalah tersebut menjadi lebih sulit.

Sekedar mengulang kritik terhadap pendapat Rostow mengenai teori pembangunan. Pembagian tahapan perkembangan suatu Negara berdasarkan tahap-tahap tertentu ternyata tidak bisa diterapkan di Negara sedang berkembang. Di suatu wilayah telah mencapai tahapan kehidupan masyarakat industri bahkan lebih, tapi di wilayah lainnya masih berkutat di tahapan tradisional seperti pertanian. Bahkan dapat kita jumpai bebrapa tahapan perkembangan dalam satu wilayah. Yogyakarta, kota yang bisa di kategorikan memasuki fase tinggal landas dimana sektor industri dan manufaktur mulai menguasai perekonomian serta masyarakat yang modern. Masih kita temui golongan masyarakat yang terbelakang, yang belum siap untuk dikategorikan manusia modern. Fenomena yang aneh. Namun tak pernah menemukan solusi permasalahan yang tepat.

Inilah yang menjadi inti permasalahan yang saya bahas. Kaum migran yang masuk kekota memiliki tujuan awal untuk memperbaiki kehidupan mereka. Namun keterbatasan kemampuan ekonomi dan skill membuat mereka seringkali mendapatkan kondisi yang lebih buruk di kota. Keterbatasan tersebut juga mempengaruhi kemampuan mereka untuk mengakses lahan tempat tinggal mereka. Sehingga mereka memanfaatkan tempat-tempat yang sebenanya milik Negara seperti bantaran sungai dan kolong jembatan. Akses tanah yang tidak memerlukan uang sewa namun sesuai peraturan yang berlaku bukan untuk lahan pemukiman. Mungkin fenomena seperti rumah di bantaran sungai sudah biasa kita temui. Seperti halnya rumah di bawah kolong jembatan. Tapi, yang akan saya kemukakan adalah rumah yang berdiri di bawah kolong jembatan, namun bukan sekedar di bawah jembatan namun dibawah konstruksi bangunan jembatan.

Jembatan merupakan suatu prasarana yang menjadi salah satu bagian jalur transportasi. Proses pembuatan yang sarat dengan teknologi, perhitungan yang teliti dan konstruksi baja menjadi simbol suatu kemajuan  teknologi. Namun di bawah rangka baja konstruksi bangunan tersebut berdiri suatu rumah dari kayu yang memanfaatkan ruas jembatan sebagai tiang rumah tersebut. Dan penghuninya adalah migrant dari luar kota yang pekerjaannya sebagai pemulung di kota. Dualisme yang tercermin antara stakeholder modern dengan pola migran yang termarginalkan.

Hal ini benar-benar terjadi. Di Kota Yogyakarta yang terkenal kota wisata. Kota yang terkenal sebagai pusat pendidikan yang banyak melahirkan birokrat, menteri, politikus yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Tepatnya di Jembatan Pingit di jl. Kyai Mojo. Jembatan yang berdiri di atas aliran sungai Winongo. Suatu kawasan yang memiliki arus lalu lintas yang padat dan dekat dengan pusat kota Yogyakarta. Di bawah konstruksi jembatan terdapat rumah-rumah yang di bangun dari kayu. Tinggal beberapa kelompok keluarga di rumah-rumah tersebut. Salah satu pemilik rumah yang pertama kali membangun rumah di sana adalah Pak Sunggowo. Pak Sunggowo berasal dari luar Kota Yogyakarta. Beliau merupakan orang asli Magelang , salah satu wilayah  di luar Kota Yogyakarta. Kehidupan di tempat asalnya yang kekurangan serta alas an untuk tidak lagi membebani orang tua, beliau memutuskan untuk mencari kehidupan yang baru. Keinginan untuk merantau dan mencari kerja dengan niat memperbaiki taraf hidupnya begitu kuat. Nalurinya sebagai lelaki mendidik dirinya untuk kuat dalam menhadapi tantangan hidup. Yogyakarta, dengan segala daya tarinya menjadi tempat tujuan beliau mencari pekerjaan. Tepatnya pada tahun 1995 beliau bermigrasi ke Yogyakarta bersama istrinya. Bermodal sedikit uang dan skill yang terbatas hanya mampu membuat beliau bekerja sebagai pemulung. Mengumpulkan barang-barang bekas dan emnjualnya menjadi pekerjaan tetap baginya. Penghasilan yang sangat minim membuat beliau hidup serba kekurangan. Untuk mencukupi kebutuhan keluarganya beliaupun bekerja serabutan, tawaran menjadi tukang parkir dan kuli bangunan sempat ia lakukan. Namun tetap saja belum merubah kehidupannya.

Kemampuan ekonomi yang sangat minim menyebabkan Pak Sunggowo tidak mampu untuk menyewa tempat tinggal. Ketika beliau melewati Jembatan Pingit terpikir olehnya untuk tinggal di bawah jembatan tersebut. Pada mulanya beliau hanya tidur di bawah konstruksi jembatan beralaskan karung semen bekas hasil memulung. Berangsur-angsur beliaupun mulai mendesign rumahnya dengan kardus-kardus bekas sehingga dapat dijadikan tempat tinggal. Ruang yang lumayan luas di bawah jembatan tersebut mulai menarik perhatiannya untuk mendirikan rumah yang lebih luas lagi. Sehingga dengan bermodalkan uang dari hasil kerjanya. Pada masa-masa sebelum krisis moneter di  Indonesia beliaupun membeli papan kayu yang ketika itu dapat diperoleh dengan harga murah. Beliaupun menjadi arsitek sekaligus tukang dalam pembuatan rumahnya tersebut dan hingga sekarang di jadikan rumah sebagai tempat tinggal mereka. Disinilah beliau beserta istrinya dan kedua anaknya tinggal hingga sekarang. Menjalani aktivitas layaknya manusia pada umumnya. Di rumah tanpa izin mendirikan bangunan dan di suatu tempat yang tidak layak untuk dijadikan pemukiman. Ketika pagi datang, beliau bekerja menjadi pemulung sampah di Kota Yogyakarta. Dan di saat malam, kolong konstruksi jembatan Pingitan seolah menjadi villa bagi keluarga mereka. Sebuah potret betapa sulitnya kehidupan sekarang ini.

Dalam suatu kesempatan saya berhasil berdialog langsung dengan Pak Sunggowo. Seorang pribadi masyarakat jawa pada umumnya. Tutur kata yang sopan menjadi ciri khas keramah tamahan Indonesia. Meskipun hidup dalam keadaan yang memprihatinkan tak terlihat raut sedih di mukanya. Hal ini mengajari saya betapa tegarnya beliau mengarungi hidup.Meskipun berada pada taraf kemiskinan, kebahagian batin yang beliau miliki menjadi harta paling berharga dalam hidupnya.

Rumah, di Indonesia telah di atur dalam perundang-undangan. Tempat-tempat tertentu dilarang untuk dijadikan rumah. Terutama ruang-ruang yang berfungsi sebagai fasilitas umum dan tempat-tempat yang diperuntukkan untuk tujuan tertentu. Jembatan merupakan salah satu contohnya. Meskipun rumah yang dibangun Pak Sunggowo tidak mengangg fungsi jembatan, namun apa yang beliau lakukan sudah menyalahi aturan yang ada di Indonesia. Berdirinya rumah tersebut menimbulkan kesan kumuh, tidak tertata dan tidak memenuhi standar kehidupan yang layak. Rumah Pak Sunggowo ini tanpa fasilitas listrik. Apabila malam tiba penerangan hanya bertumbu pada lampu-lampu jalan. Untuk fasilitas air bersih, ia memperoleh denagan cara melubangi pipa saluran air yang ada di bawah jembatan. Suatu kondisi yang sangat memprihatinkan. Ketika kita telah mengenal kecanggihan bermacam teknologi mutakhir masih ada saudara kita dalam kemiskinan dan keterbelakangan.

Jika kita berbicara tentang kesehatan, terutama standar tentang rumah yang sehat. Rumah di bawah konstruksi jembatan Pingitan yang di arsitekturi oleh pak Sunggowo sangat jauh dari standar rumah sehat. Rumah yang berada di bawah tidak mendapatkan cahaya matahari. Biasanya menjadi tempat berkembangnya nyamuk dan lalat yang menyebarkan penyakit berbahaya seperti malaria, demam berdarah dan tifus. Udara perkotaan yang penuh dengan pencemaran akibat kepadatan lalu lintas di atas rumahnya tersebut bisa menimbulkan berbagai macam penyakit terutama pernafasan. Kebisingan dari gas buang kendaraan bisa menganggu pendengaran. Namun, pada kenyataannya, Pak Sunggowo dan keluarganya merasa sangat nyaman tinggal di bawah jembatan tersebut. Mereka sekeluarga tidak pernah mengalami penyakit-penyakit parah seperti malaria ataupun tifus. Dan, selama mereka tinggal di sana, tidak ada gangguan dari nyamuk. Sesekali, hanya penyakit ringan seperti masuk angin dan sakit kepala mereka alami. Kesulitan terhadap air bersih juga menjadi masalah. Meskipun hanya mengandalkan bocoran pipa saluran air tetap saja tidak mencukupi kebutuhan mereka. Kondisi yang sangat aneh. Fenomena yang masih menjadi tanda tanya bagi saya. Dan yang paling menarik bagi saya adalah kebersihan yang selalu di jaga oleh Pak Sunggowo. Sebisa mungkin mereka menjaga agar lingkungan di sekitar rumah mereka terbebas dari sampah.

Untuk kehidupan bermasyarakat, pak Sunggowo berusaha untuk menjalin hubungan yang baik dengan warga kampung disana. Hal ini ditunjukkan dengan pendataan keluarga beliau di kantor kelurahan setempat. Sehingga beliau memiliki kartu keluarga dan kartu tanda penduduk. Pak Sunggowo tercatat sebagai warga di kampung Pingit. Sebagai anggota masyarakat yang baik, meskipun rumah beliau terletak agak jauh dari perkampungan beliau selalu berusaha untuk aktif di masyarakat. Ketika di adakan kegiatan gotong royong ataupun kerja bakti beliau selau hadir. Meskipun dengan kondisi ekonomi yang kurang beliau menunjukkan itikad baik dalam bersosialisasi dengan sesama.

Pak Sunggowo tahu bahwa apa yang telah ia lakukan salah. Namun, keadaan yang memaksanya untuk melakukan hal ini. Ketidakmampuan untuk mengakses lahan diperkotaan membuat ia memanfaatkan konstruksi jembatan sebagai tempat tinggal. Bahkan, selama ia tinggal disana belum satupun pihak Pemerintah mendatanginya untuk melakukan pembinaan ataupun penggusuran. Ketika saya tanyakan tentang kemungkinan untuk pindah ketempat yang lain, beliau terdiam sejenak. Waktu yang cukup lama membuat beliau dan keluarganya seolah memiliki ikatan batin dengan rumahnya. Penghasilan yang hanya cukup untuk makan membuat mereka tidak mampu mencari tempat lain untuk tinggal. Hal inilah yang menyebabkan kehidupan beliau di bawah konstruksi jembatan bertahan hingga saat ini. Akan tetapi, pembangunan rumah oleh Pak Sunggowo ini tetap saja menyalahi aturan. Seandainya terjadi penggusuran, Pak Sunggowo tidak akan mampu berbuat apa-apa. Kehilangan tempat tinggal tanpa adanya ganti rugi menjadi akibat dari pelangaran aturan yang ada. Ketika adanya kerusakan ataupun gangguan terhadap konstruksi jembatan kemungkinana besar Pak Sunggowo dapat dijadikan penyebabnya. Denda bahkan hukuman penjara bisa dialami olehnya. Kenyataan ini bisa terjadi di masa-masa yang akan datang tau bahkan ketika kita membuka mata di pagi hari. Situasi yang sangat dilematis bagi kaum pinggiran seperti Pak Sunggowo.

Pak Sunggowo adalah salah satu potret kehidupan masyarakat miskin di kota Yogyakarta. Masih banyak yang lebih melarat, bahkan tidak punya tempat tingal sama sekali. Sulit, masalah kemiskinan menjadi masalah besar tanpa adanya penyelesaian yang pasti terutama di Negara-negara sedang berkembang seperti Indonesia. Ketika dunia telah memasuki abad 21 ynag penuh gemerlap teknologi dan ilmu pengetahuan. Masyarakat Indonesia masih berspekulasi tentang kelangsungan hidupnya. Cerita tentang rumah Pak Sunggowo sangat antiklimaks terhadap perkembangan zaman dewasa ini. Di satu sisi kota masyarakat dengan kemampuan ekonomi tinggi mamp membangun perumahan yang megah. Segala fasilitas rumah yang lengkap. Namun, di sisi yang berbeda, kaum pinggiran hanya bisa tinggal di tempat tak layak huni untuk tetap bertahan hidup. Kesenjangan sosial semakin tinggi terjadi setiap harinya. Apakah kehidupan seperti ini yang kita harapan? Pakar lingkungan, sosial, ekonomi, ahli perencana kota bahkan Lembaga Swadaya Masyarakat di Indonesia semuanya tak pernah ada yang bisa memberikan solusi yang tepat dalam penanggulangan masalah kemiskinan kota. Pemerintah hanya bisa membiarkan kehidupan ini terus berjalan. Krisis keuangan yang terus melanda semakin memperburuk kondisi kalangan miskin di Indonesia. Keterbatasan dalam mengakses lahan akan semakin sulit. Ditambah dengan populasi penduduk yang terus bertambah. Lahan akan semakin mahal dan semakin sempit. Saya hanya bisa bertanya pada diri saya sendiri. Setelah jembatan, infrastruktur apa lagi  yang akan didesign oleh arsitek pinggiran untuk dijadikan perluasan kawasan miskin mereka. Mungkinkah di saat itu saya termasuk di antaranya?

 

[Sebuah tulisan di awal kuliah S1 , ^_^ ]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s