Setelah sekian lama mengalami moratorium akhirnya menjalang Pemilu 2014 penerimaan CPNS diadakan kembali. Ditengah hingar bingarnya ancaman manipulasi hasil penerimaan yang sering (diduga) terjadi, inovasi yang dilakukan oleh Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dengan menerapkan komputerisasi dalam sistem seleksi CPNS di tahun 2013 ini patut diacungi jempol. Meskipun masih belum diterapkan di semua institusi pemerintahan serta masih pada tahapan Tes Kompetensi Dasar (TKD). Tentunya kita sangat berharap kedepannya sistem ini semakin baik kedepannya baik dari sisi transparansi dan akuntabilitas proses rekrutmen hingga output yang dihasilkan.

Berbicara mengenai rekrutmen pegawai negeri sipil di Indonesia tidak pernah lepas dari bahasan mengenai masalah klasik yang telah membudaya di republik ini seperti dugaan praktik KKN, praktik percaloan dan kecurangan lainnya. Terlepas dari fenomena tersebut penulis lebih tertarik membahas hal lain yang menurut penulis tidak kalah substantif untuk menjadi perhatian serius semua elemen bangsa Indonesia.

Seperti yang telah ditetapkan bahwa materi dari Tes Kompetensi Dasar (TKD) dalam tes CPNS terdiri dari tiga kategori yaitu Tes Wawasan Kebangsaan, Tes Intelegensi Umum dan Tes Karakteristik Pribadi. Secara sederhana, banyak orang akan menduga bahwa tes intelegensi umum merupakan jenis tes yang memiliki tingkat kesulitan paling tinggi dari kategori lainnya. Sayangnya, berdasarkan pengalaman penulis yang kebetulan telah beberapa kali mengikuti tes CPNS tahun ini banyak peserta yang mengatakan bahwa mereka banyak mengalami kesulitan pada tes wawasan kebangsaan. Apakah tes wawasan kebangsaan ini benar-benar sesulit yang dikemukakan oleh banyak peserta?

Pada dasarnya, tes wawasan kebangsaaan hanya menguji seberapa jauh pemahaman kita tentang bangsa Indonesia terutama mengenai sejarahnya, konstitusi negara serta beberapa pengetahuan umum yang berkaitan dengan peristiwa penting seputar sejarah dunia. Beberapa soal mengenai sejarah adalah pertanyaan-pertanyaan mengenai masa-masa sekitar kebangkitan nasional, tokoh-tokoh sumpah pemuda dan kebangkitan nasional, piagam Jakarta, usulan dasar negara oleh Moh.Yamin dan Soekarno, Dekrit Presiden 5 Juli 1959, Maklumat X Wapres tentang KNIP, istilah BPUPKI dan PPKI dalam bahasa Jepang serta beberapa pertanyaan mengenai pahlawan-pahlawan kemerdekaan Indonesia. Sedangkan pertanyaan tentang konsitusi negara meliputi UUD 1945 mengenai kedaulatan negara, struktural lembaga negara beserta fungsi dan kewajibannya (MPR, DPR, DPD), pemilihan umum serta lambang dan bendera Indonesia. Kemudian, pertanyaan tentang sejarah dunia meliputi masalah perang dunia I dan II, Piagam Atlantik dan Declaration of Human Rights.

Lantas, apakah materi-materi tersebut merupakan soalan yang sulit? Terlepas dari kontroversi sejarah yang berkembang di era kontemporer, soal-soal yang keluar dalam tes wawasan kebangsaan tersebut berdasarkan pengalaman penulis merupakan materi pelajaran yang diperkenalkan di level SMP dan SMA. Mungkin banyak pihak yang berargumen bahwa itu sudah lama dipelajari dan wajar kalau kita lupa. Namun, sebagai warga negara yang baik haruskah kita lupa dengan sejarah berdirinya bangsa kita sendiri? Lupa terhadap konstitusi negara kita sendiri? Memang penulis pribadi belum melakukan riset terendiri untuk mengetahui seberapa rendah nilai tes wawasan kebangsaan yang terjadi saat ini. Namun mendengar opini serta cerita yang penulis temui di lapangan setidaknya menjadi hipotesis tersendiri bagi penulis bahwa wawasan kebangsaan khususnya generasi muda memang sudah hilang entah kemana.

Wawasan Kebangsaan tentunya merupakan elemen penting dalam bernegara. Kepahaman kita terhadap bangsa dan negara akan membuat kita tahu bahwa sebagai warga negara kita punya tanggung jawab yang harus dimanifestasikan dalam segala perbuatan yang dilakukan dikehidupan berbangsa dan bernegara.

Ketidaktahuan terhadap beberapa peristiwa sejarah di masa lampau disertai ketidaktahuan dan ketidakpahaman terhadap konstitusi negara tentunya menjadi permasalahan serius bagi bangsa ini. Ketika kita tidak tahu apa yang menjadi alasan kita merdeka, seperti apa perjuangan kita untuk merdeka dan mengapa kemerdekaan tersebut harus dipertahankan maka wajar konflik dan pertikaian sosial terus terjadi. Hal ini karena kita semua telah lupa, lupa dengan makna persatuan yang dulu dikibarkan pendiri bangsa.

Ketidaktahuan dan ketidakpahaman terhadap konstitusi negara membuat kita tidak pernah tahu apakah bangsa ini benar-benar sudah berkedaulatan rakyat dan berdasarkan hukum sebagaimana yang diamanahkan oleh Undang-Undang Dasar. Ketidakpahaman ini membuat kita menjadi tidak tahu apakah yang dilakukan oleh penguasa saat ini menjungjung tinggi konstitusi atau justru mengkhianati konstitusi?.

Sayangnya, inilah realita yang terjadi. Banyak dari kita yang tidak mengenal bumi dimana dia berpijak atau langit dimana dia junjung. Bagaimana kita, para generasi muda Indonesia, akan mengurus dan mengelola segala rupa yang ada dalam bangsa ini jika kita tidak mengenal dengan baik tanah air ini?. Bukankah pepatah mengatakan bahwa tak kenal maka tak sayang dan tak sayang maka pun tak cinta?

Yah, siapapun yang membaca tulisan ini penulis persilakan untuk bertanya kepada diri masing-masing. Seberapa paham dan peduli kita terhadap bangsa ini? Karena dalam rasa peduli itulah nasib bangsa ini dipertaruhkan.

HMI

HMI itu ibarat buku, dia gudang ilmu, bukan sekedar tempat kita belajar teori untuk melakukan perubahan, tapi mendidik kita menjadi pencipta, penggerak dan bagian tidak terpisahkan dari perubahan.

Bergabung bersamanya adalah kunci untuk menjadi bagian dari sejarah peradaban

(Andryan Wikrawardana, 2013)

Quote  —  Posted: November 20, 2013 in Catatan Harian Saya
Tags: ,

Kita terlalu banyak diajarkan untuk berdebat sehingga terlahir menjadi generasi yang selalu ingin memenangkan pembicaraan, bukan mengutamakan penyelesaian masalah

(Andryan Wikrawardana, 2013)

Quote  —  Posted: November 3, 2013 in Uncategorized

Pledoi

Posted: October 2, 2013 in Catatan Harian Saya

Kadang orang sering mempertanyakan,
apa gunanya meneriakkan suara kekritisan.

Kadang orang sering menertawakan,
apa gunanya mempertahankan idealisme perjuangan.

Ya…
Suara kritis memang tidak serta merta mengubah keadaan.
Idealisme memang tidak bisa dimakan.

Tapi…
Suara kritis yang meneriakkan kebenaran.
Akan menyadarkan orang tentang keadaan.
Idealisme perjuangan yang ditegakkan akan membuat orang tetap bisa makan.

images

(sumber gambar : http://www.fanpop.com/clubs/doctor-sir-alex-ferguson-25-years/images/25028420/title/alex-f-wallpaper)

Minggu ini berita di media cetak maupun elektronik sedang ramai dengan 3 hal. Di halaman depan, Ahmad Fathonah beserta selir-selirnya nampak masih menjadi berita favorit. Pengrebekan teroris mengikuti dibelakangnya.

Tapi berita yang mengusik saya di minggu ini bukanlah dua hal di atas. Pengumuman pengunduran diri Sir Alex Ferguson sebagai arsitek Manchester United cukup menggemparkan jagad persepakbolaan dunia. Masa kepemimpinan opa Fergie di MU bahkan lebih tua dari usia saya. Puluhan gelar juara baik di kompetisi domestik dan Eropa sudah dipersembahkan olehnya. Wajar memang kalau opa fergie mau pensiun mengingat usianya saja sudah mencapai 71 tahun. Usia yang seharusnya dinikmati oleh kakek-kakek untuk menghabiskan waktu bersama keluarga terutama cucunya. Tapi opa fergie malah memilih menikmati masa tuanya di bench nya MU sambil mengunyah permen karet dan terkadang terlibat adu argumen dengan anak-anak muda jaman dulu yang sekarang memiliki profesi sama sepertinya.

Entah angin apa yang membuat Fergie memutuskan berhenti tahun ini. Apa karena selebrasi golnya Van Persie yang hampir membuat Fergie semaput menyadarkan bahwa dia sudah sangat uzur? hehehe. Jika berbicara usia, memang tidak bisa dibohongi. Saya jadi ingat ketika dalam suatu perandingan antara MU vs Chelsea yang masih di arsiteki Ancelotti. Di akhir pertandingan, Ancelotti yang menurut saya sudah berusia 50an itupun kepalanya di usap-usap oleh Fergie seperti seorang ayah kepada anaknya. Momen yang memperlihatkan betapa seniornya seorang Sir Alex Ferguson di dunia sepak bola.

Tapi apapun keputusan yang telah opa Fergie ambil di akhir musim ini menurut saya sudah sangat tepat. Karena dia mengundurkan diri disaat tim yang dia arsiteki meraih gelar juara di Liga Inggris. Banyak pelatih dan pemain yang tidak seberuntung Fergie karena harus pensiun di kala klubnya sedang mengalami keterpurukan. Atau bahkan seperti yang dialami oleh Marcello Lippi di piala dunia 2010. Saya Ketika di 2006, Lippi adalah pelatih yang sempurna karena sukses mengantarkan Italia menjadi kampiun pada saat itu. Sayang, keputusannya kembali menjadi pelatih Italia di piala dunia 2010 berujung pada kegagalan. Saya memang tidak tahu pasti persepsi orang terhadap Lippi saat itu tapi yang jelas jasa-jasa Lippi di 2006 sejenak terlupakan. Tapi apapun itu, setiap orang berhak menentukan pilihan hidupnya masing-masing. Tepat atau tidaknya pilihan tersebut menjadi resiko yang tentunya sudah dipertimbangkan sebelumnya.

Pensiunnya Fergie memang menciptakan dampak yang luar biasa. Media sibuk memberitakan kandidat-kandidat suksesornya, isu transfer pemain bahkan prediksi bisakah MU tetap berada di jalur juara bersama pelatih yang baru kelak. Beban mental yang luar biasa bagi David Moyes yang akhirnya diputuskan menjadi nakhoda baru Manchaster United selama 6 musim kedepan. Dan yang cukup menarik, di sosmed, politisi seperti Anas Urbaningrum memanfaatkan momen mundurnya Fergie untuk mengeluarkan bahasa-bahasa bersayapnya. Analogi kepemimpinan fergie yang dikomparasikan dengan seseorang (yang mungkin semua khalayak sudah pasti tahu) menjadi wacana menarik untuk disimak.

Pendukung MU di seluruh dunia pasti sangat bersedih dengan pensiunnya Fergie. Tapi mau bagaimana lagi, seiring berjalannya waktu, pensiunnya Fergie pasti akan terjadi. Setidaknya untuk memberikan MU peluang melakukan transformasi dan lepas dari bayang-bayang kesuksesan yang selama ini didapatkan bersama Fergie. Jika hal tersebut tidak dilakukan saat ini, bisa jadi klub akan gagal mempertahankan kejayaannya di masa yang akan datang. Hal ini seharusnya menjadi hikmah yang bisa dijadikan pelajaran penting bagi kita semua.

Selamat beristirahat Sir Alex, kehadiranmu di dunia sepak bola memberikan warna yang sulit untuk diungkapkan dengan kata oleh para penikmat sepak bola. Semua orang akan sangat merindukan kehadiranmu dipinggir lapangan. Kisah suksesmu akan menjadi cerita hangat sebelum tidur untuk anak cucuku di masa yang akan datang.

 

Andryan Wikrawardana

Orang yang suka menonton dan menikmati sepak bola

Andryan Wikrawardana

Prolog

Seperti yang sering kita ketahui bahwa melakukan perubahan di sektor publik tidak semudah implementasinya di sektor swasta. Ostroff (2006) menjelaskan bahwa berbagai perbedaan dalam hal tujuan , konteks dan budaya membuat tantangan dan hambatan yang dihadapi sektor publik terlihat menjadi lebih sulit. Apa yang sebenarnya mendasari hal seperti ini terjadi?

Kepemimpinan di sektor publik cenderung dipilih bukan berdasarkan komitmen untuk melakukan perubahan atau track record dari pemimpin yang dipilih tersebut. Namun lebih dikarenakan hal-hal yang bersifat teknis bahkan politis. Kondisi seperti ini yang membuat sektor publik sering berjalan normatif dan mengalami kesulitan apabila harus membuat perubahan. Karena banyak pemimpin lebih memilih untuk memposisikan institusinya dalam zona nyaman meskipun zona tersebut terkadang membawa institusi mengalami kemunduran.

Kemudian di sektor publik, seringkali pemimpin/manager akan dihadapkan oleh periode kepemimpinan yang terbatas. Sebagai contoh di Indonesia,  seperti yang dialami oleh banyak kepala daerah di Indonesia. Pada masa awal kepemimpinan sering dimanfaatkan untuk para kepala daerah beradaptasi dengan ritme maupun lingkungan kerjanya. Untuk kepala daerah yang memiliki kemampuan adaptasi yang lemah tentunya akan memakan waktu yang cukup lama yang tentunya akan mengurangi masa efektif bekerja mereka. Hal ini akan semakin diperparah ketika mendekati akhir periode kepemimpinan. Apabila kepala daerah tersebut berniat untuk mencalonkan kembali tentu fokus kepemimpinannya lebih pada agenda-agenda yang menguntungkan pencitraan serta ketokohannya. Ketika periode kepemimpinan sektor publik hanya sibuk dengan hal-hal seperti ini maka wajar saja banyak kemonotonan yang dipertontonkan oleh banyak sektor publik di Indonesia.

Selanjutnya, sektor publik tidak sefleksibel sektor swasta khususnya untuk permasalahan anggaran, pembelian hingga perekrutan tenaga kerja. Karena sejatinya sektor publik menggunakan uang negara tentunya prosesnya menjadi lebih rumit dan memakan waktu yang cukup lama karena harus ada persetujuan parlemen hingga ragam proses politik lainnya. Dan yang alasan terakhir mengapa begitu sulit untuk menginisiasi perubahan di sektor publik dikarenakan banyak kepentingan di dalamnya. Ada perubahan yang bisa diterima semua pihak sehingga prosesnya akan lebih mudah diimplementasikan sebaliknya ada perubahan yang sifatnya esensial untuk segera dilaksanakan namun impelementasi kebijakan tersebut akan merugikan banyak kepentingan (meskipun sering lebih cenderung kepentingan kelompok/golongan tertentu). Hal ini akan membuat perubahan yang diinginkan akan sulit terealisasi.  Atas dasar ini ada beberapa prinsip dasar yang coba dikemukakan oleh Ostroff (2006) dalam tulisannya yang berjudul ‘Change Management in Government”. Setidaknya dengan penerapan prinsip dasar tersebut akan membuat perubahan khususnya perubahan dari sisi pengelolaan yang harus dilakukan di sektor publik akan lebih mudah dan bisa dimanajemen dengan baik.

Lima Prinsip Dasar dalam “Change Management in Government

Di sektor publik , perubahan seringkali mendapatkan respon yang beragam. Ketika seorang pemimpin gagal mendapatkan respon positif dari bawahannya ketika mengawali suatu perubahan maka perubahan yang diharapkan tidak akan berjalan sesuai harapan. Sehingga untuk mengantisipasi hal tersebut terjadi maka ada beberapa prinsip dasar yang harus diperhatikan oleh para pemimpin khususnya di sektor publik.

Pertama adalah “Improve Performance Against Agency Mission“. Terkadang kita sering menemukan peningkatan kinerja institusi namun hal tersebut tidak selaras dengan tujuan sebenarnya institusi tersebut hadir. Sebagai contoh, secara konsep fungsi pemerintah daerah sebenarnya adalah melayani masyarakat. Akan tetapi dalam realitanya konsepsi melayani masyarakat tersebut tidak tertanam dengan baik di kalangan birokrat di Indonesia. Secara kuantitatif bisa saja jumlah masyarakat yang dilayani meningkat setiap periodenya namun secara kualitas pelayanan tersebut masih seadanya. Hal ini disebabkan kebanyakan orang yang bekerja di pemerintah daerah beranggapan bahwa tugas mereka hanya bersifat administratif biasa bahkan untuk level-level jabatan tertentu ada pergeseran paradigma yang menyimpang. Filosofi melayani bertransformasi menjadi keangkuhan untuk dilayani dan ini terjadi hampir diseluruh birokrasi di Indonesia. Sebagai konsekuensinya pelayanan masyarakat seringkali tidak optimal.  Kondisi seperti ini menyebabkan dibutuhkannya dekonstruksi ulang sehingga adanya keselarasan antara performa kerja dengan tujuan pekerjaan yang dilakukan.

Kedua, adalah “Win Over Stakeholder” . Dalam sektor publik ada banyak stakeholder yang berkepentingan. Sehingga terkadang perubahan akan ditanggapi secara beragam oleh masing-masing stakeholder. Untuk mengantisipasi respon negatif baik dari stakeholder eksternal maupun internal maka pemimpin/manager di sektor publik harus mampu mengkomunikasikan secara efektif dan intensif ke semua stakeholder mengenai pentingnya perubahan tersebut dilakukan. Sebagai contoh, ketika ada perubahan dari sistem tender atau lelang manual menjadi e-procurement di berbagai instansi pemerintah pada awalnya mendapat banyak tentangan baik dari internal maupun eksternal. Meskipun tujuan dari penerapan sistem ini sangat baik karena lebih efisien, efektif dan mencegah peluang indikasi suap. Komunikasi yang baik mengenai tujuan dan teknis penerapannya kepada semua pihak yang berkepentingan akan membuat kebijakan ini akhirnya bisa diterima.

Selanjutnya adalah “Create a Road Map” dan “Take a Comprehensive Approach“. Untuk membuat perubahan tentunya harus direncanakan sedemikian rupa. Identifikasi mengenai tujuan dari dilakukan perubahan asangat penting untuk dilakukan di awal. Semua pihak harus tahu mengapa perubahan tersebut perlu hadir. Apakah perubahan tersebut membawa manfaat dan meningkatkan kinerja organisasi atau sebaliknya membuat organisasi mengalami kemunduran. Hal ini penting karena ketika semua pihak paham mengenai alasan perlunya perubahan maka akan terjadi sinergisitas dalam implementasi perubahan tersebut. Skala prioritas juga perlu diperhatikan karena seringkali institusi terjebak dalam keinginan untuk membuat banyak perubahan. Padahal dalam kenyataannya ada kondisi-kondisi tertentu yang belum membutuhkan perubahan.

Pendekatan yang bersifat komprehensif juga perlu dilakukan karena pada hakikatnya perubahan sering melibatkan banyak faktor. Sebagai contoh, adalah kebijakan Kementrian Pendidikan ingin menerapkan sistem ujian nasional dengan 20 paket soal. Kebijakan ini membutuhkan pendekatan komprehensif dalam pelaksanaanya karena dengan jumlah paket soal yang lebih banyak membuat adanya kemungkinan kesalahan cetak atau bahkan keterlambatan cetak. Kondisi geografis wilayah Indonesia juga membuat distribusi soal ke daerah peru diperhatikan moda transportasinya. Ketika kebijakan ini tidak menggunakan pendekatan yang bersifat komprehensif dan terintegrasi maka pada pelaksanaannya akan menimbulkan banyak kekacauan.

Prinsip terakhir yang harus diperhatikan adalah “Be a Leader, Not a Bureaucrat“. Seperti yang telah dijelaskan di awal bahwa sektor publik cenderung kurang fleksibel dan kaku dalam menjalankan perubahan. Banyak aturan tertentu yang seringkali membuat perubahan dengan maksud baik tersebut harus berhadapan dengan rumitnya aturan yang membuat tidak jalannya kebijakan yang telah direncanakan. Dalam kondisi seperti ini, para pemimpin di sektor publik harus berpikir out of the box dalam mencari solusi agar perubahan yang diinginkan bisa terjadi. Akan tetapi faktanya banyak para pemimpin di sektor publik dalam kondisi seperti ini cenderung bersikap selayaknya seorang birokrat yang kaku dan tidak kreatif. Sebagai contoh , ketika suatu daerah ingin membangun Mass Rapid Transport sebagai salah satu solusi kemacetan kota namun terbentur dengan masalah anggaraan yang terbatas, payung hukum yang kurang kuat dll. Seorang pemimpin akan cekatan mencari solusi untuk permasalahan ini karena menyangkut kepentingan banyak warga kota. Namun seorang pemimpin yang berpola pikir birokrat akan terjebak dalam pemikiran yang normatif. Bukan solusi yang diutamakan, tapi malah kekhawatiran yang pada akhirnya membuat proyek tersebut tidak berjalan sesuai harapan.

Pendekatan Persuasif Dalam Mengimplementasikan Perubahan

Selain lima prinsip dasar dalam melakukan perubahan yang telah dijelaskan sebelumnya, agar perubahan yang diharapkan dapat terwujud maka pendekatan persuasif menjadi salah satu pendeketan yang dapat dijadikan solusi. Terkadang kita bertanya, mengapa perubahan itu sulit? Perubahan menjadi sulit ketika banyak orang tidak mau mengubah kebiasaan meskipun hal tersebut adalah penyebab terjadinya inefisiensi dan disfungsi kinerja institusi. Garvin dan Roberto (2005) dalam tulisannya yang berjudul Change Through Persuasion menjelaskan bagaimana pendeketan persuasif dilakukan untuk mengatasi permasalahan klasik seperti ini.

Garvin dan Roberto (2005) juga menjelaskan bahwa ada empat poin yang dapat menjadi strategi dalam mengimplementasikan perubahan. Pertama adalah “setting the stage“. Sebagai pemimpin sebelum kita mengimplementasikan suatu kebijakan seharusnya kita terlebih dahulu harus paham bagaimana kondisi eksisting institusi yang kita pimpin. Hal ini menjadi penting terutama bagi para pemimpin yang baru terpilih. Secara sederhana setting the stage dapat diartikan sebagai usaha mengkondisikan agar institusi yang kita pimpin mau mendukung kebijakan yang diambil. Setting the stage dilakukan dengan mengkomunikasikan tentang seberapa penting dilakukannya perubahan, rasionalisasi atas kebijakan yang diambil maupun gaya dari kepemimpinan kita dalam institusi. Keterbukaan menjadi elemen penting yang menentukan kesuksesan perubahan. Ketika pada tahapan ini pemimpin gagal meraih simpati bawahannya maka resistensi akan muncul dan menghambat terwujudnya tujuan institusi.

Kedua, perlu adanya kesamaan pola pikir antara pemimpin dengan bawahannya. Untuk membenahi institusi terkadang seorang pemimpin memiliki rencana strategis. Namun tidak semua pihak memahami apa sebenarnya makna dari rencana strategis tersebut. Ketika banyak elemen dalam isntitusi yang gagal mengejawantahkan rencana tersebut maka pekerjaan tidak akan berjalan dengan sinergis.

Ketiga, pemimpin juga harus menjaga kondisi psikologis bawahannya. Berbagai kebijakan yang diambil oleh atasan dalam masa-masa perubahan seringkali membuat banyak pihak dalam institusi terguncang. Sehingga, pemimpin harus benar-benar memperhatikan kondisi ini karena secara tidak langsung kondisi psikis bawahan akan mengganggu produktivitas maupun semangat kerja.

Dan yang terakhir adalah Reinforcing Good Habits. Seringkali hal-hal yang kurang relevan untuk meningkatkan kinerja institusi menjadi kebiasaan yang terus menerus dilakukan. Sebagai seorang pemimpin , dengan pendekatan persuasif kita bukan sekedar mendekonstruksi kebiasaan buruk yang telah melembaga tersebut namun juga harus mampu melembagakan kebiasaan yang baik di institusi yang kita pimpin. Sebagai contoh, menggeser paradigma ingin dilayani di kalangan birokrasi Indonesia menjadi paradigma melayani tentu bukanlah hal yang mudah. Banyak orang yang sudah merasa nyaman dengan prilaku birokrasi yang selalu ingin dilayani. Meskipun hal tersebut salah , ketika didekonstruksi untuk kembali ke filosofi birokrat yang sebenarnya maka akan banyak resistensi. Sehingga dalam konteks ini peranan pemimpin dalam mengkomunikasikan kebiasaan atau paradigma yang baik tersebut untuk melembaga dalam jiwa para birokratnya sangat penting.

Epilog

Berbicara tentang perubahan maka bahasan kita tidak hanya sebatas pada upaya melahirkannya semata, namun ada beban dimana kita harus memastikan perubahan tersebut berjalan dan memberikan manfaat bagi banyak orang. Seperti yang terjadi dalam mengelola sektor publik. Perubahan yang dilakukan tatkala mengelola sektor publik akan menghadapi banyak hambatan.

Di sektor publik , perubahan seringkali mendapatkan respon yang beragam. Apabila seorang pemimpin gagal mendapatkan respon positif dari maka perubahan yang diharapkan tidak akan berjalan sesuai harapan. Sehingga untuk mengantisipasi hal tersebut terjadi maka ada lima prinsip dasar yang harus diperhatikan oleh para pemimpin khususnya di sektor publik. Lima prinsip dasar ini akan memudahkan para pemimpin sektor publik untuk mewujudkan perubahan dan mencapai hasil yang diinginkan.

Selain itu, pada dasarnya lingkungan merupakan faktor penting dalam mewujudkan perubahan di sektor publik. Ketika lingkungan sektor publik merupakan lingkungan yang bersifat receptive maka setiap unsur di dalamnya bisa merespon positif. Lingkungan yang receptive menjadi kunci apakah perubahan tersebut dapat diimplementasikan. Pendekatan persuasif merupakan salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk menciptakan lingkungan yang receptive.

 

 

*Tulisan ini merupakan resume dari kajian artikel dengan judul “Change Management in Government” oleh Frank Ostroff  yang dimuat di Harvard Business Review May 2006 dan “Change Through Persuasion” oleh David A.Garvin dan Machael A.Roberto yang dimuat di Harvard Business Review February 2005.

Andryan Wikrawardana

Alhamdulillah, Terima kasih atas segala nikmat dan karunia Mu ya Rabb. Hingga hari ini aku masih diperkenankan hidup di dunia ini. Segala syukurku atas nikmatMu yang telah memberikan orang-orang baik disekitarku. Baik itu kedua orangtuaku, saudaraku, keluargaku, sahabat-sahabatku.  Yang senantiasa memberikan semangat atas segala usahaku, yang memberikan rasa aman diketakutanku, yang memberikan kenyamanan di sela kekakuanku, yang memberikan persahabatan dikesendirianku. Sekali lagi, Alhamdulillah……..

Memasuki usia 25 dengan masih berstatus Mahasiswa (meskipun S2) yang  belum punya pekerjaan tetap dan masih percaya dengan mimpi-mimpi yang aku tuliskan di dinding kamar kosan merupakan masa-masa yang berat. Ketika teman-teman sebaya sudah mulai menikah, mempunyai penghasilan tetap setiap bulannya , aku masih saja bergulat dengan teori dan jurnal akademik perkuliahanku. Bahkan tidak jarang ada beberapa orang yang sering “ngeledek” tentang aktivitas ku saat ini.  Memang kuliah S2 ku sudah hampir mau selesai, tinggal thesis dan target wisuda di bulan Oktober. Tapi ketika ditanya apa rencana setelah lulus S2, sampai detik ini pun aku bingung menjawab apa. Alih-alih bicara tentang mencari kerja, aku malah mendaftar beberapa aplikasi beasiswa S2 ke luar negeri. Memang benar, aku masih bermimpi untuk bisa seperti Ikal di novel Laskar Pelangi.

Tapi apapun itu, yang jelas aku harus menentukan untuk hijrah. Pertapaanku di jogja benar-benar membuatku berada dalam zona nyaman. Ada benarnya ketika ada yang mengkritik bahwa aku saat ini terlalu jauh dari realita karena terlalu sering bicara mimpi dan idealisme yang dipandang banyak orang terlalu utopis. Tapi…. hijrah kemana? Menjadi kelas menengah di Jakarta kah? Yang setiap pagi dan petang akan selalu ngetwit tentang kemacetan tapi tanpa sadar telah berkontribusi menyebabkan kemacetan tersebut. ^_^ . Atau pulang ke kampung halaman?  Tapi entah mengapa aku merasa begitu asing dengan kampung halamanku sendiri saat ini. Seolah mengisyaratkan menolak kepulanganku untuk saat ini. Entahlah…. Semoga akhir bulan ini pilihan itu segera aku buat setidaknya untuk menenangkan hati kedua orang tuaku tercinta.

Meskipun bingung dengan rencana-rencana kedepan, memasuki usia 25 membuat aku sadar, bahwa perlahan tapi pasti, aku semakin tua. Setiap main ke kampus S1 entah itu ke perpus ataupun ke kantin, hanya sedikit sekali orang yang aku kenal. Saya ingat, waktu dulu mulai skripsi, angkatan 2009 adalah angkatan termuda yang baru saja resmi jadi maba. Dan saat ini, mereka sudah berbondong-bondong ujian pendadaran. Maba-Maba sekarang adalah anak-anak yang masih SD dan SMP waktu aku baru masuk kuliah. Waw, usia memang sudah tidak bisa bohong lagi, bahwa di usia 25 saya sudah sangat tua di kampus.

Dan yang paling penting, di usia 25 hampir semua ucapan ulang tahun disertai doa agar segera ketemu jodoh. Doa yang sangat saya aminkan dengan kesungguhan hati. Hehehe… ^_^ . Walaupun poin terakhir ini benar-benar sulit untuk saya wujudkan.

Anyway, Selamat datang usia 25…..

Seberat apapun ujian hidup yang akan saya alami di tahun ini, saya percaya, Allah tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan hambaNya. Insya Allah, saya siap menjalani usia 25 di tahun ini.

Jatah hidup boleh berkurang setiap tahunnya, tapi semangat, progresivitas dan idealisme harus tetap tinggi . Semoga sifat bijak , santun dan kedewasaan diri menjadi pemanisnya.